Murid-murid Bicara Peristiwa 65

424 Viewed Redaksi 0 respond
Murid-murid saya menonton Senyap
Murid-murid saya menonton Senyap

Oleh: Diah Wahyuningsih Naat*

Saya seorang guru mata pelajaran sejarah SMA. Pada murid-murid saya di kelas XII saya memperlihatkan film dokumenter Jagal dan Senyap karya Joshua Oppenheimer sebagai bagian dari pembelajaran sejarah mereka.

Cerita sejarah resmi mengenai peristiwa G30S 1965, yang menyebabkan kematian enam jenderal masih senyap soal kejahatan kemanusiaan terhadap orang-orang yang dituduh komunis yang terjadi sesudahnya. Diperkirakan lebih dari satu juta orang menjadi korban pembantaian, penahanan, pemerkosaan, penghilangan paksa, dan pembuangan.

Buku-buku sejarah dari dulu hingga sekarang masih tetap menggunakan satu versi yang akhirnya memiskinkan cara pandang generasi muda Indonesia.

Bagi saya rekonsiliasi untuk tragedi 1965 perlu dilakukan dari lingkungan sekolah. Untuk betul-betul mewujudkan rekonsiliasi, menghancurkan impunitas, serta merehabilitasi korban, murid-murid sekolah perlu diajarkan mengenai sejarah sesuai fakta dan mengakomodasi berbagai perspektif.

Semakin kaya dan luas pembahasan mengenai Peristiwa 65 akan semakin membuka jalan menyelesaikan kesalahan masa lalu.

Karena itu saya menayangkan film-film dokumenter Jagal dan Senyap pada murid-murid saya.

Film dokumenter Jagal bercerita mengenai bagaimana algojo pembantaian orang-orang terduga komunis di 1965 dengan bangga mereka ulang bagaimana mereka membunuh korban mereka. Sementara Senyap bercerita mengenai adik seorang korban 1965 memecah kebisuan mengenai pembantaian tersebut dengan menemui para pembunuh kakaknya untuk bertanya mengapa mereka melakukannya.

Butuh keberanian besar bagi saya untuk menayangkan film-film tersebut. Ketika seorang guru sejarah ingin memutus mata rantai kebencian yang diteruskan dari generasi ke generasi bukan tidak mungkin hadir tuduhan ia punya niatan menyuburkan kembali ideologi komunis yang dilarang oleh negara Tapi sebagai guru mata pelajaran sejarah, saya punya beban masa lalu yang wajib dituntaskan.

Murid-murid saya kelas XII. Mereka generasi sesudah Orde Baru berakhir. Mereka tumbuh di masa reformasi. Namun buku teks sejarah mereka belum beralih dari narasi Orde Baru.

Selain dari buku teks sejarah, pengetahuan murid-murid saya mengenai narasi di luar propaganda Orde Baru mengenai Peristiwa 65 hanya mereka peroleh melalui tuturan orang tua dan percakapan di media sosial. Bisa jadi pula, generasi murid saya terkesan masa bodoh atas narasi sejarah soal ini karena Peristiwa 65 terjadi berpuluh tahun sebelum mereka lahir.

Murid-murid saya menonton Jagal

Murid-murid saya menonton Jagal

Akan tetapi sesudah saya memutarkan film Senyap ke murid-murid saya, ternyata mereka punya pemikiran yang dewasa soal isu ini. .

Ada kebahagiaan luar biasa membaca komentar mereka. Kebanyakan orang belum tentu bisa berpikir layaknya mereka. Banyak orang dewasa masih terus tak bernyali bercerita tentang kekejian dalam peristiwa pembantaian di tahun 65–66.

Berikut beberapa komentar murid-murid saya yang menarik. Seorang murid saya berpendapat:

“Film Senyap mendidik kami agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Peristiwa 65. Film yang menggambarkan /tampilan dan kesaksian dari pelaku dan korban. Mereka dituduh PKI, dibunuh atas perintah tentara yang dilakukan masyarakat sipil. Hal ini sangat memilukan karena bangsa Indonesia menutup-nutupi kejadian yang sudah jelas-jelas terjadi. Negara yang seharusnya melindungan rakyatnya malah menghancurkan rakyatnya. Negara telah melakukan kejahatan level tinggi (Genocide) yang menyebabkan hilangnya ribuan nyawa”

Ada juga komentar lain, katanya;

“ Melihat Senyap membuat saya miris membayangkan kejadian 65 yang membunuh banyak korban dengan cara biadab. Mirisnya lagi hal itu dilakukan oleh oknum-oknum yang duduk di pemerintahan, seperti tentara dan anggota legislatif. Benar-benar kejahatan besar. Para pelaku di film tersebut merasa tidak bersalah. Untuk membuka kebenaran ini ke publik pasti sangat kontra sekali. Oleh karena itu negara harus menggali sedikit demi sedikit agar tahu faktanya. Memang pahit dan perih tapi bisa membuat para korban merasa terbayarkan dengan membuka kebenaran”.

Tidak sampai disini saja, komentar lain bermunculan diantaranya;

“Setelah saya amati film tersebut, saya mulai paham dengan cerita sejarah yang sesungguhnya bahwa pemerintah (penguasa) saat itulah yang tidak berperikemanusiaan. PKI dituduh tidak ber-Tuhan tapi justru mereka yang membantailah yang tidak ber-Tuhan. Ini tidak adil bagi korban (PKI) karena hanya ingin menggulingkan satu orang saja (Presiden Soekarno) pemerintah mengambil tindakan di luar batas kemanusiaan. Rakyat Indonesia sendiri dibunuh dan dituduh PKI. Lagi pula, logikanya PKI yang katanya tak ber-Tuhan tidak merugikan Indonesia. Toh sekarang banyak manusia yang bukan PKI maupun bukan keturunan PKI mengaku Bertuhan tapi prilakunya biadab.”

“ Menurut saya, seharusnya pemerintah membuka aib negara kita. PKI itu belum tentu jahat tapi mereka dimanfaatkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Mereka yang membunuh tidak sedikitpun mau meminta maaf. Mereka tidak mau mengungkap kebenaran. Padahal mereka bisa saja minta maaf kepada korban. Bisa lewat Youtube barangkali kalau perlu sebagai niatan dari perwakilan keluarga pembunuh”.

“Nonton Senyap telah membuka wawasan saya terhadap peristiwa 65 yang mana selama ini saya pikir PKI lah dalang pembunuhan jenderal. Namun sesudah saya menyimak penjelasan korban saya mengerti bahwa masih banyak yang ditutup-tutupi. Entah untuk kepentingan politik karena masa lalu atau karena sesuatu alasan yang tidak kita ketahui. Saya menyesal kenapa baru sekarang menononton filmnya. Seharusnya film ini ditayangkan untuk masyarakat umum bukan untuk mengenang kembali peristiwa melainkan untuk menjadi pembelajaran. Indonesia yang katanya ramah dan damai menyimpan kenangan buruk di masa lalu. PKI bukan sesuatu yang hina melainkan sesuatu yang butuh kejelasan”.

“Setelah nonton Senyap ada rasa sedih, prihatin dan kesal. Sedih dan prihatin karena rakyat Indonesia yang tidak bersalah menjadi korban politik pemerintah sehingga membunuh dan menewaskan orang yang dituduh PKI itu dibenarkan. Kesal karena hingga detik ini pemerintah masih terus menutupi rapat-rapat tentang peristiwa asli. Malahan pemerintah memutar-balikkan fakta sehingga para siswa di Indonesia yang berlajar sejarah termasuk saya menjadi bingung. Sejarah yang dipelajari tidak sesuai dengan peristiwa yang ada”.

“Menonton film ini rasanya campur aduk. Saya bingung mau bilang apa. Dari awal film diputar suasana yang ditampilkan sudah menegangkan. Miris rasanya melihat pembunuh yang selama ini dicari ada sekitar lingkungan tempat tinggal sendiri. Saya kesal sebab baik yang PKI maupun yang dituduh PKI dihilangkan dengan cara kejam, tidak manusiawi. Kenapa harus dibunuh, apa tidak ada peradilan. Apalagi si pembunuh tidak merasa bersalah”.

“Kejam, kata itulah yang menurut saya tepat diberikan pada pemerintah. Jika PKI terbukti membunuh jenderal setidaknya tangkap orang PKI nya bukan malah melakukan pembantaian (Genosida) terhadap PKI. Film ini layak ditonton oleh para guru, sejarawan, murid agar tidak salah /pemikiran tentang PKI”.

“Senyap menggambarkan tentang peristiwa yang amat mengerikan terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Film Senyap mewakili kesengsaraan korban serta keluarga korban pembantaian yang dianggap PKI. Sejak saya SD, saya diajarkan bahwasannya PKI adalah pemberontak, jahat, kejam, dan tidak berperikemanusiaan, membunuh para jenderal, membunuh serta menyiksa siapa saja yang mereka anggap menghalangi atau berusaha menyingkirkan PKI. Akan tetapi setalah menyimak film ini, saya mulai merubah pola pikir saya yang menganggap PKI sebagai pemberontak yang kejam. Ada banyak hal yang mengganjal dalam benak saya. Saya bingung kenapa PKI disebut sebagai pemberontak yang kejam, kenapa mereka dimusnahkan. Para penjagal merasa telah berbuat untuk bangsa dengan cara membantai mereka yang dianggap PKI tanpa rasa bersalah. Penjagal menyebut diri mereka sebagai tindakan bela negara. Mereka menyiksa, membunuh dengan kejamnya. Lantas siapakah yang sebenarnya kejam di sini? Siapakah yang harus bertanggung jawab akan pembantaian ini? Seharusnya pemerintah terbuka dan menyelesaikan kasus 65, membuka setiap hal yang selama ini ditutupi”.

Komentar-komentar di atas hanya sebagian kecil dari pemikiran murid-murid saya. Masih banyak komentar lain yang bagi saya menunjukkan kecerdasan pemikiran sejarah mereka.

Murid-murid saya bukan generasi masa lalu. Mereka adalah generasi terkini yang sudah waktunya berpikiran historis terkini pula.

Dibandingkan mereka, kebanyakan masyarakat Indonesia masih pengecut. Fakta adanya peristiwa kelam tidak menjadikan negara bertindak bijak. Negara seolah melepaskan tanggung jawab atas kebencian yang terus dipupuk.

Tapi generasi muda sekarang bukan generasi yang bodoh. Generasi ini bukan pula generasi yang ingin membuka luka lama.

Banyak orang sering berpendapat bila Peristiwa 65 yang terjadi lebih dari 50 tahun lalu dibicarakan berpeluang mencerai-beraikan keutuhan NKRI. Namun terus bungkam pun keutuhan NKRI semakin di ujung tanduk. Sisi gelap sejarah akan selalu mengikuti perjalanan kita sebagai bangsa Indonesia sendiri.

Kita boleh saja berpikir bila Partai Komunis Indonesia (PKI) berseberangan dengan Pancasila namun bukan berarti perjuangan PKI luput dari catatan sejarah. Secara historis, PKI berhasil menjadi representatif perjuangan melawan kapitalisme dan kolonialisme. PKI merupakan satu organ politik yang berada di baris terdepan ketika bangsa Indonesia berupaya merebut kemerdekaan.

Generasi murid-murid saya bukan generasi pembenci. Mereka juga bukan generasi yang masa bodoh yang dapat diindoktrinasi sesuai kepentingan sekelompok orang.

Apa yang mereka utarakan menjadi bukti betapa pelajaran sejarah selama ini melahirkan ketidakmampuan bangsa menyelesaikan persoalan dan membawa Indonesia lupa akan prinsip demokrasi.

Saya bersyukur bisa memberikan perspektif lain untuk memperkaya wawasan mereka.

Harapan saya adalah memberi warna baru bagaimana seharusnya seorang guru sejarah membantu anak-anak didiknya untuk memiliki cara pandang historis yang menyeluruh.

____

Diah Wahyuningsih Naat, Pengajar Sejarah di SMA N. 4 Batam

sumber https://medium.com/ingat-65/murid-murid-bicara-peristiwa-65-1089cb0553f4#.nyijga11m

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Illustrasi: Tapol Pulau Buru [Foto: BecomeIndonesia]

Ladang Pembantaian Massal Indonesia

foto: ypkp-doc

Indonesian Killing Field: The Problem of Exhumation is There Still a Space ?

Related posts
Your comment?
Leave a Reply