Dari Kampung Togog Sampai “idu bacin” Tapol 65

544 Viewed Redaksi 0 respond
tapol-logo

1

Pada 1965 Oktober, Badri sebagai siswa klas 2 SMA juga mengalami nasib sebagai tahanan politik. Kisah Badri sebagai tapol ini dimulai saat  dia menerima surat panggilan Kodim untuk menghadap sekitar minggu kedua pada bulan yang sama. Situasi politik pasca Gestok memang serba mencekam, tak terkecuali buat pemuda Badri dan sebayanya di masa itu.

Hari Jum’at, seorang Kepala Dusun (Kadus) di kampung yang membawa surat panggilan tentara itu tiba di rumah orangtua Badri di Sentolo, Kulon Progo. Pak Kadus Darno yang mengenal betul pemuda Badri anak petani warga kampungnya; menahan nafas yang memberati rongga dadanya. Tetapi sebagai bahu desa dia harus menjalankan tugas ini, meskipun dia tak sepenuhnya memahami tugas yang mbikin sesak rongga dadanya itu.

“Saya hanya semata mengantar surat untukmu..”, suara lirih pak Kadus sembari menyerahkan surat ke pemuda Badri.

Dan pemuda Badri pun menerima surat itu. Lalu menyimak nama yang tertera di sampulnya untuk meyakinkan bahwa memang benar surat panggilan dari Kodim itu dialamatkan kepadanya. Ketika ia mengangkat wajahnya kembali, mendapati bahwa mata sang bahu desa telah basah; menangis. Keduanya berangkulan menjelang tengah hari Jum’at itu.

Surat panggilan untuk pemuda Badri ini ditandatangani oleh Kapten Dirdjo, Komandan Kodim Kulon Progo masa itu. Intinya, pemuda Badri harus menghadap ndandim pada hari Senin!

Badri menyurutkan surat itu setelah tercenung membacanya, menaruhnya di sisi meja dan dibiarkan terbuka sampulnya. Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa si pemuda nampak gemetar tangannya. Saat malam tiba, ia tak lagi berani tidur di rumah. Dia tidur dengan cara berpindah-pindah. Di pematang sawah, di tanggul sungai, bahkan juga tidur dengan memanjat pohon melinjo. Di waktu lainnya dia meringkuk di kebun yang tak jauh dari rumah orangtuanya.

Malam terakhir pemuda ini ngumpet bersama Tukiran, temannya yang ternyata juga dipanggil tentara. Kedua pemuda ini diberitahu bahwa ada beberapa teman lainnya di rumah mbah Carik. Lalu keduanya bergegas ke sana. Ternyata benar telah ada Sehono dan Dalijan yang didapatinya tengah duduk di serambi dengan raut muka nampak tegang.

 

2

Senin pagi 4 pemuda Sentolo dijemput dengan truk terbuka, bersama sekitar 15 warga lain yang sudah lebih dulu dinaikkan truk bercat bluthuk warna hijau tentara. Dari balik pintu rumah yang ditinggalkan Badri, perempuan setengah abad bernama Sukidjah memandangi kepergian anaknya yang beranjak dewasa; tanpa bisa berkata-kata.

“Anakku dijemput tentara..”, bisik perempuan itu. Selebihnya ia tak tahu mesti bagaimana dan berbuat apa.

Dia juga tak tahu apa yang diperbuat anaknya yang seharusnya pergi ke sekolah pada pagi itu. Yang dia pahami hanyalah bahwa pemuda anaknya adalah seorang yang berbakat cerdas, itu pun dengan merangkum kata-kata dari teman sekolah anaknya. Sekali ia pernah menerima kedatangan guru SMA yang menitipkan surat dan mengemukakan kesukaannya akan sifat pemberani anak dari perempuan ini.

Badri memang anak yang cerdas. Jika guru sekolahnya bercerita soal keberaniannya, tak meleset juga. Itu sebabnya pemuda ini dipercaya menjadi pimpinan pengurus kolektif Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia [IPPI] Komisariat Kulon Progo.

Masa 1960-an memang banyak tumbuh organisasi pemuda dan pelajar, juga di kalangan mahasiswa di Indonesia. Di kota hingga desa tumbuh pula organisasi Pemuda Rakyat [PR]. Sedang di kalangan mahasiswa ada Central Gerakan Mahasiswa Indonesia [CGMI].

Dan beberapa yang aktif dalam organisasi ini, pagi itu diangkut dalam satu truk yang sama, dengan Badri yang dijemput Senin pagi itu sebelum sempat mengenakan sepatunya.

 

3

Begitu tiba di halaman markas Kodim Kulon Progo, terasa benar suasana yang melompat dari mendebarkan ke ketegangan psikis. Perlakuan tak ramah berlangsung sejak itu. Perintah turun dari truk saja mesti dengan bentakan keras memanaskan Senin pagi bulan Oktober. Disertai pula dengan suara gebrakan pada bak truk yang alas dan seluruh sisinya terbuat dari pelat besi. Betapa tak enaknya Senin pagi hari itu..

“Turun sekarang !”, bentak tentara.

“Berbaris”, susul suara.

Belasan pemuda di atas truk militer, beberapa diantaranya bukan pemuda lagi itu, pun turun satu per satu dengan cara meloncat ke tanah kricak batu. Termasuk Badri yang tak mengenakan alas kaki. Kakinya tegang menahan nyeri tak terbiasa di halaman dengan batuan; nalarnya memberontak tapi lidahnya kelu.

Dia sadar keberanian nalar sehatnya tengah diuji sejak itu. Tahu bahwa urusan dipanggil Kodim ini bakalan runyam berkepanjangan. Badri lebih tenang karena bagaimana pun, ia bukan lagi membayangkan; tetapi tengah melakoninya secara nyata. Membayangkan kejadian itu memang bisa lebih ngeri ketimbang menghadapinya sendiri. Ke 15 pemuda yang berasal dari kampung lainnya pun lalu diabsen oleh tentara, satu persatu; sebelum kemudian dicatat ulang dalam buku.

 

5

Pemuda Badri diinterogasi tentara pada giliran waktu berikutnya. Tapi ternyata yang ada dilihat di hadapannya adalah seorang polisi. Dia cukup mengenalinya sebagai Komisaris Parman dengan wajah biasa saja dan tengah menengok arloji di tangan sebelah kirinya. Badri melirik tembok di sudut lain ruang interogasi itu; jam 09.12 pagi. Polisi ini lalu menyeka bintik keringatnya dan mengangkat muka menatap Badri.

“Kamu bernama Badui?”, tanya polisi, dingin dan datar.

“Saya Badri, pak”, jawab Badri.

“Ada nama lengkap atau alias?”.

“Tidak. Nama saya Badri itu saja”.

Puh, Badri membatin. Dia merasa polisi pemeriksa ini punya alasan untuk keliru dengan sengaja memelintir namanya. Tapi pemuda ini serius menyikapi bahwa situasi yang tengah dihadapinya lebih mengarah kepada pelik yang bakal mencelakakannya.

“Kamu pimpinan IPPI tingkat kabupaten kan?”, selidik Polisi

“Saya ketua dari kolektif organisasi IPPI”, tegas Badri

“Apa itu Kolektif !?”.

Badri menegakkan duduknya bermaksud menjelaskan. Tapi apa yang dirasa secara naluriah dari semula, ternyata benar terbukti kini. Sebuah tempelengan memedaskan pipi kirinya. Badri mencoba meluruskan muka, tabah. Pertanyaan dan tamparan yang sama diulangi kembali. Lagi. Lagi.

Pemuda ini juga mendengar dari sisi ruang lainnya, suara keluh orang yang menerima pukulan keras.

“Kamu dukung Dewan Revolusi, kan.?!”, bogem mendarat di wajahnya.

Kali ini Badri teriak “Tidak..!”.

Tapi dia tak menduga pertanyaan polisi bisa terlampau mengada-ada seperti ini. Pemuda klas 2 SMA Sentolo ini berusaha menahan sakit dan memejamkan matanya, agar dia bisa menajamkan telinga buat menangkap situasi sekitar. Pemuda ini mengerti perlakuan apa yang diterima kawan lainnya. Saat Badri membuka mata, ternyata telah ada pula 2 tentara berkacak di belakang polisi yang menginterogasinya.

Selama interogasi berlangsung selalu disertai siksaan yang makin lama makin jauh melampaui batas. Tak hanya dipukul dan diinjak kepala atau bagian tubuh lainnya. Badri disiksa dengan cara disetrum dengan aki.

Sadar bahwa kecerdasan dan keberanian itu tak bermakna apa-apa dalam situasi penyiksaan brutal seperti ini. Tapi ia tak boleh menyerah, meski menyerah atau tidak pun tetap saja tubi siksaan bertambah.

Itu pula yang dilakukan tentara di belakang polisi pemeriksa. Badri tak menunjukkan sikap takluk, tapi justru karena ini lah barangkali model siksanya mulai aneh. Polisi pemeriksa mengemasi kertas dan semua yang ada di atas meja, untuk dipindah ke meja lain. Tetapi pemeriksa ini berbalik untuk bergabung menjadi bagian dari para penyiksa. Badri dikeroyok dalam keadaan sama sekali tak berdaya.

Wajah Badri lebam ungu, berdarah, kedua matanya membengkak; begitu pula jontor di ujung mulutnya. Sejak hari itu pemuda Badri mirip Togog !

 

6

Pemuda Badri masih mengenakan bajunya yang tercabik di beberapa bagian. Dia melenguh seperti lembu tapi suara layupnya cuma bisa memendamkan amarah. Siksaan bertubi-tubi dilewatinya tadi dan untuk sejenak terhenti. Tetapi alangkah sial ratap marahnya saat dia disodori selembar kertas disertai ancaman perintah:

“Tulis semua anggota pengurus IPPI di situ..!”.

Perintah itu melebihi ledakan mesiu buat hati tegarnya. Tak mungkin dia tega, meski keselamatan tiap orang tak terletak di atas nyawa mudanya. Tidak!. Kali ini jiwa Badri menggumpal jadi pemberontak sejati.

Para penyiksa itu menepi dari ruang interogasi, seakan-akan yakin bahwa taktiknya bakal membuahkan guna. Sejurus kemudian rombongan panyiksa pun kembali memasuki ruangnya, kali ini beserta ndandim. Begitu melihat lembaran kertas di muka Badri masih kosong, raut muka para penyiksa mendadak berubah bengis sorotnya.

Seorang tentara mengeluarkan korek api merk “DRP” dari saku besar dekat dengkulnya.

“Jimatmu apa, ha..? Apa?”, sergahnya sambil nyalakan korek solar

“Kamu mau bakar kantor kecamatan, iya..? Atau mau jadi algojo?!”.

Sembari mengeluarkan sergahan yang bukan-bukan, lalu dibakarlah kepala Badri. Bau sangit rambut pemuda ini menyengat ruang. Ia telah membayangkan jika setelah ini bukan rambutnya yang dibakar, tapi kepalanya. Tidak. Badri tak mau membayangkan sebab dia tengah mengalaminya; tengah melakoni realitasnya. Realitas yang tengah menyiksanya, seperti aturan rimba yang tak dihuni manusia.

Selama hampir 4 jam interogasi terhadap pemuda Badri tak menghasilkan realitas sangkaan, sebuah tudingan yang dipaksakan untuk diakui para tersangka. Tubuh Badri ditelanjangi untuk menampakkan lebam dengan bercakan ungu di punggungnya. Lalu di sisi bercakan ini dibaretkan kawat baja yang diambil dari ban luar mobil truk tentara. Kawat seperti ini rupanya juga sudah disiapkan menjadi paket alat penyiksaan fisik bagi tapol, demikian pula dengan narasi dan daftar sangkaan dalam interogasi.

Akhirnya pada jam 14.00 siang itu Badri jatuh pingsan. Pemuda ini telah melampaui batas ketahanan mental dan tubuhnya sebagai manusia.

 

7

Pada hari ke 20 Badri menjadi tapol di penjara Kulon Progo, tak semua lukanya mengering sembuh; karena memang obat tak ada, terutama buat sakit perasaan kemanusiaannya yang terus teraniaya. Diantara sekitar 400-an tapol seperti dia di penjara itu ada Kardi, Ngadimin dan Jumali; yang bergantian mengobati luka-luka tubuh Badri dengan cara dan obat yang aneh.

“Obat penyembuh untuk semua luka di penjara itu idu bacin namanya”, kata Badri.

Ya. Idu Bacin adalah air liur yang dikeluarkan saat pertama orang bangun dari tidur malamnya. Saat pertama orang terjaga dan membuka mata, sebelum melakukan apa-apa dan sebelum mencuci rongga mulutnya.

Perlakuan dalam tahanan terhadap mayoritas tapol sangat tak manusiawi. Obat-obatan tak ada, sanitasi juga tak ada; kondisi umum kamp tahanan juga sangat jauh dari standar kelayakan. Pemuda Badri sangat bersedih atas ini, bukan sekedar karena dia melakoninya dengan terpaksa. Tetapi lantaran manusia ditempatkan pada derajat yang merendahkan martabat.

Dalam soal ransum makanan bagi tapol pada umumnya dia sangat nelangsa. Acapkali untuk iseng menghibur diri dia menghitung jumlah butir jagung jatah sarapannya; 27 biji jagung! Pernah dia mendapati hanya 22 butir bagi jatah sarapannya. Buat dia ini sesuatu penderitaan yang berat. Tapi dalam pikirannya, lebih berat bagi tapol lain yang rata-rata usianya lebih tua. Sebagai tapol Badri “cuma” ditahan hingga 1966.

[bersambung]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
2/5 - 2
You need login to vote.
18875-cahaya-toelank-wordpress

Bom Di Hanoi, Keajaiban Di Bukit Cahaya

Illustrasi: Lukisan karya Misbach Tamrin

Pelarian di Hutan Pegunungan Meratus | Bagian Pertama

Related posts
Your comment?
Leave a Reply