Awal Pertama Sebagai Tapol | 3

289 Viewed Redaksi 0 respond
Lukisan "Interogasi", karya: Amrus Natalsya
Lukisan "Interogasi", karya: Amrus Natalsya

Lolos dari lobang jarum keselamatan atas eksekusi mati. Itu adalah rasa syukur pertama yang dipanjat kan keatas. Bersyukur kepada “Yang Maha Kuasa,” telah menjadi keniscayaan bagi mahluk manusia yang dianugrahi hidup. Apalagi bagi insan kamil yang teraniaya. Hidup itu indah! Atau pakar estetikaTjernisevsky katakan lagi, bahwa keindahan itu adalah kehidupan. Tak bisa dipungkiri.

Namun, ancaman berikutnya yang lebih besar tetap menganga dan menggelantung bagai tali gantungan untuk menjerat leher. Atau nyawa ini masih berada diujung laras peluru. Sebab, sekali jejak langkahmu menginjak pintu gerbang perjuangan politik. Kau harus siap mengorbankan apa saja yang kau miliki. Termasuk jika perlu kepalamu siap untuk melayang.

Jadi, tak apa jika di pagi itu, setelah kau bak sampah terlempar di tempat pembuangan akhir (TPA). Kau bagai bola dipimpong oleh tendangan beberapa orang prajurit secoret penjaga tahanan, yang tak ada kerjaan lain. Kecuali mendemonstrasikan kegagahan jiwa kebrangasannya, bahwa anjing bisa lebih ganas dari tuannya. Biar sakit, asal bisa hidup! “Biar ganting asal jangan pagat” (Biar nyaris putus, asal jangan putus). Memang ngeri, ketika mendengar suara dari penjaga : “Mereka ini bagai “haruan” (ikan gabus) dalam kurungan. Tinggal tunggu saat “mencatuki” (menotok) kepalanya saja lagi”.

Hari ini, saya secara imajiner, terdaftar sebagai anggota TPA juga. Tapi TPA singkatan Tempat Pembuangan Awal (bukan akhir) selaku Tahanan Politik (TAPOL). Syukur dan mending jadi tapol, ketimbang bangkai. Begitulah naluri dan cita rasa saling campur aduk, ketika menginjak tangga pertama dari kamar tahanan.

Memang, mungkin lancar-lancar saja bagi kawan kami yang diciduk aparat sedang berada dirumahnya masuk tahanan. Secara etis selaku manusia terhormat, petugas bilang : “Sekedar untuk diamankan. Diamankan dari pengeroyokan massa”. Tapi bagi kami yang ditangkap dari pelarian? Nah, pasti dianggap mereka tangkapan berat. Apalagi semua mereka yang ditangkap dalam pelarian itu kelas kakap. Para pimpinan partai dan ormas setempat.

Tapi bayangan pikiran atau prediksi, tak selalu sesuai kenyataan. Dari bacaan sejarah, dalam Peristiwa Madiun semua pimpinan top PKI dieksekusi habis. Tapi di sini, setelah sehari saya ditangkap, saya dikunjungi ibu dan keluarga saya dirumah tahanan. Saya kaget,dan merasa heran alias aneh. Koq, bisa begitu cepat saya boleh dikunjungi keluarga. Siapa yang memberi tahu? Ternyata yang memberi tahu keluarga saya, bahwa saya ditangkap, justru Komandan Kodim setempat. Hanya karena isteri si komandan berkaitan keluarga dengan ibu saya.

Nah, berarti telah tercatat dalam benak saya, buat yang kedua kalinya saya memperoleh mukjizat kemujuran. Pertama, nyawa saya diselamatkan dari eksekusi, oleh seorang camat yang kenal saya sebagai teman semasa di SD. Keduanya, oleh Komandan Kodim telah sedikit membuka kelonggaran tehnis bagi nasib saya di awal promosi selaku tapol. Betapapun, tentu sebatas yang bisa ia bantu. Sedangkan prinsip yang digariskan oleh politik dan ideologi negara yang berkuasa tetap dipegangnya teguh. Tanpa boleh tersentuh oleh toleransi atau kompromi dengan keluarga sekalipun.

Tapi hal itu hanya sebagian sisi perak dari awan kelabu yang mengepul. Tentu duka deritanya akan lebih panjang dari serangkum suka duka yang bisa diraih. Selama dalam status kehidupan tapol yang telah tertelikung kebebasan bergeraknya sebagai warga negara. Justeru ketika dalam keadaan teraniaya semacam ini, selalu diperlukan berpikir positif. Senantiasa berupaya meniti dipucuk-pucuk buih dari gelombang ombak yang bergemulung di atas samudera kehidupan.

Semisal apa yang telah terjadi dibalik kegembiraan saya menerima kunjungan ibu dan keluarga saya lainnya yang membawakan bingkisan makanan dan pakaian untuk saya. Terutama sang ibu kandung yang memandang saya dengan tangisan yang menggerimis dan berderai. Tak kuasa oleh kesanggupan dan ketegaran jiwa jantan saya yang selama ini cukup teruji. Untuk menahan air mata yang terpaksa juga harus menetes. Saya sedih, karena sudah pasti, dampak dari ulah anaknya pembawa “aib” lingkungan masyarakat terbanyak di kota ini,akan menjadi beban seluruh keluarga.

Sudah hampir sebulan sejak peristiwa G30S terjadi, saya sama sekali tak tahu bagaimana perkembangan situasi diluar? Tapi lewat bahasa tubuh dan suara-suara yang terdengar dari mereka. Terutama dari obrolan para penjaga. Ditambah oleh naluri dan intuisi yang tumbuh di bawah sadar saya. Perubahan dan peralihan kekuasaan tampaknya semakin nyata. Kian memudarkan harapan untuk situasi bisa berbalik kembali. Bahkan, dari selintingan berita yang terselip dari obrolan para penjaga. Bahwa, pemeriksaan alias interogasi para tahanan sudah akan segera dimulai.

Dengan demikian, beban tekanan sebenarnya yang harus dihadapi dengan persiapan diri berlipat ganda. Tak lain, kecuali di saat-saat penginterogasian. Di sini, adalah merupakan babakan awal pergulatan fisik dan mental dari pertaruhan nasib seorang tahanan politik. Bahkan, ini semacam momen dramatis dari cerita Shakespeare “Hamlet” dengan kata kuncinya yang terkenal :”To be or not to be”. Hidup atau mati, alternatif pilihan dari pertarungan pikiran kemana kita harus berpihak. Suatu tantangan yang amat dilematis. Betapapun, saya tak pernah mengalami sebelumnya. Tapi dari bacaan mengenai riwayat (biografi) para pejuang politik pada umumnya, hal ini merupakan kepastian pahit getir hidup yang tak terhindarkan.

Hanya sekitar 5 hari saya berada sedirian terlokalisir di rumah tahanan pertama. Kemudian saya dipindahkan untuk dikumpulkan bersama semua tahanan diseluruh kabupaten Hulu Sungai Utara, di kota Murung Pudak (Tabalong). Di sebuah gedung yang tadinya tempat pertunjukan, hiburan, sekaligus resto dan koperasi Pertamina. Semua tahanan yang kebanyakan kaum buruh itu dikumpulkan disini.

Nah, di sini saya berjumpa lagi dengan 4 kawan-kawan, yang tadinya selama hampir sebulan bersama saya tinggal di gua. Minus Andy, yang konon kabarnya oleh penguasa, ia di pulangkan ke Makassar, kampung halamannya. Kami tidak tahu apakah di sana status nasib Andy, apakah selaku tapol atau tidak. Dugaan kami , Andy dipulangkan sebagai balas jasa atas perannya membantu penguasa “mengamankan” kami semua dengan lancar.

Dari cerita keempat kawan, malam itu juga mereka ditangkap oleh sepeleton tentara, dengan membawa Andy selaku penunjuk jalannya. Saat mereka sedang terlelap tidur nyenyak di dalam gua, mereka dikejutkan oleh bunyi letusan peluru yang serempak ditembakkan ke atas. Berhamburan selongsong peluru di depan gua. Yang untung saja semua tembakan yang mubazir itu tak sempat ditaburkan kepada mereka.

Di hari pertama saya dipindahkan, pada malam harinya, beberapa kawan dari ormas tani pengurus ranting, mulai diperiksa oleh tim interogator yang terkenal bengis dan kejam. Waktunya selalu tak lama setelah sholat isa, ditandai dengan deruman bunyi mesin mobil truk di luar gedung. Bunyi mesin truk yang mendatang, telah merupakan sinyal yang amat traumatis bagi semua tahanan. Sebagai pertanda akan tiba saatnya siapa saja yang akan dijemput petugas mendapat giliran untuk “digojlok” alias disiksa di ruang pemeriksaan. Memang sudah menjadi standar baku, bagi interagator bagaimana bisa memeras sipesakitan dengan berbagai cara untuk mengaku atas setiap kemungkinan perencanaan G30S yang mereka tak ketahui. Dan menggali pengakuan sebenarnya dari sel-sel jaringan kekuatan partai dan ormas untuk terciduk sampai keakar-akarnya, tanpa ada yang tersisa.

Sudah menjadi kebiasaan yang rutin, sepulang mereka dari pemeriksaan. Selalu mereka kembali dengan tubuh babak belur. Dengan muka lebam, penuh bengkak yang kadang berdarah-darah. Anehnya, suatu hal yang mungkin merupakan mukjizat keberuntungan, masih terdapat di dalam ruang tahanan ini. Seorang penghuni berusia tua, berkumis dan berjenggot putih. Ditakdirkan berada di tengah kami sebagai tabib pelipur lara yang berwibawa dan bijak. Bagi pesakitan tahanan yang telah dipulangkan dari pemeriksaan, dengan tubuh babak belur, penuh bengkak. Hanya dengan sentuhan sekali baluran beras-kencur di tangan “sang penghuni tua”, sipesakitan besoknya kembali pulih sehat wal afiat…
***

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1592067691096643&id=100008802812263

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Aksi Kamisan

Meretas Babak Baru Perjuangan HAM

kamisan-malang-aj

Aksi Kamisan di Malang Sorot Banyak Kepentingan Ekonomi Menindas di Balik Pelanggaran HAM

Related posts
Your comment?
Leave a Reply