Gerakan Literasi vs Gerakan Nonton Bareng G30S/PKI

175 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi
Ilustrasi

Gerakan literasi selalu digembor-gemborkan oleh orang-orang yang menginginkan perubahan di negerinya. Apalagi setelah pemerintah melalui Presiden Jokowi secara langsung terang-terangan mendukung gerakan ini dengan mengundang ke istana negara dan memberikan fasilitias yang bisa mendukung gerakan literasi bagi para pegiatnya. Sehingga rakyat Indonesia yang katanya selalu malas membaca sedikit demi sedikit sadar bahwa buku setidaknya bisa membuat status facebook mereka lebih berisi dan tidak melulu hanya soal galau dan menyebarkan berita hoax saja. Dengan demikian derajat orang Indonesia dalam dunia perbukuan sedikit demi sedikit terangkat pasca penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, yang memberi kabar bahwa orang Indonesia mendapatkan peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat membaca.

Pada kenyataannya memang sulit untuk memutarbalikkan posisi minat baca itu menjadi lebih baik. Sebagai pegiat literasi, saya melihat banyak faktor yang mempengaruhi orang kehilangan momen untuk membaca. Salah satu faktornya, seperti kata ketua Forum TBM Indonesia, Firman Venayaksa, adalah karena keterbatasan akses membaca buku. Hal itu terbukti dengan akses buku ke berbagai pelosok negeri sangatlah minim bahkan tidak ada sama sekali seperti yang pernah saya lihat ketika mendatangi ke daerah mereka.

Maka dari itu, para pegiat literasi mencoba jungkir balik agar buku-buku bisa didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia dengan cara mencari donator buku dan memaksimalkan bantuan-bantuan buku dari mana pun. Dengan apa yang sudah dilakukan, kami berharap buku itu mampu dilahap oleh mereka dan memberikan nutrisi baru dalam isi kepala mereka yang membacanya.

Namun di saat-saat para pegiat literasi itu sedang gencar-gencarnya membangunkan orang agar membaca, justru angin kencang untuk menonton televisi akhir-akhir ini pun begitu kencang terasa. Masyarakat Indonesia justru digiring untuk menonton televisi serentak demi menonton sebuah tayangan legendaris tentang sejarah Indonesia, G30S/PKI yang dari namanya saja terdengar begitu menyeramkan. Namun harus ditegaskan bahwa memang tidak ada masalah jika banyak orang melihat tayangan soal itu G30S/PKI. Hal yang harus dilihat justru efek yang ada di alam bawah masyarakat. Jika masyarakat sampai menganggap film G30S/PKI adalah sebuah kebenaran sejarah, maka secara tidak langsung akan membuat frame atau pengetahuan mereka soal PKI akan bertambah buta. Inilah yang berbahaya.

Sekali lagi, boleh-boleh saja menonoton apa saja yang mereka inginkan, selama itu baik bagi mereka, termasuk jika ingin menonton film G30S/PKI. Tetapi mengapa dalam momen-momen seperti yang sedang hot-hotnya orang membicarakan tentang PKI, masyarakat kita justru ‘dipaksa’ untuk menonton. Mengapa kita tidak membuat gerakan membaca sejarah serentak seluruh Indonesia saja sehingga masyarakat bisa tahu sejarah mereka sendiri.

Melihat sejarah hanya dalam sebuah tayangan yang hanya berakhir beberapa jam saja apakah bisa menyingkap rahasia-rahasia yang ingin kita ketahui soal PKI? Tentu saja tidak. Sebetulnya jika ingin mengetahui soal PKI, mengapa masyarakat justru seolah-olah diwajibkan harus menonton film tentang PKI? Bukankah sebuah film itu dibuat tidak selamanya sesuai dengan kenyataan? Justru dalam sebuah film biasanya banyak memiliki rekaan.

Kalau kita sungguh-sungguh ingin mengetahui soal sejarah kelam G30S/PKI, mengapa kita tidak serentak menyuruh orang untuk membaca buku? Padahal segala peristiwa sejarah sudah dituliskan dalam buku dan sumber-sumber sejarah lainnya dan semuanya juga harus dibaca, bukan dipelototi seperti dalam sebuah film saja. Maka tradisi seperti inilah yang membuat kita menjadi stagnan dalam berdialetika. Masyarakat menjadi minim pengetahuan dan jika berdebat soal apapun, utamanya soal PKI, banyak yang terperosok bahkan cenderung hanya memiliki satu perspektif saja.

Bukankah televisi atau layar-layar film lainnya hanya berlayar satu atau bermata satu dan tidak memberikan pilihan-pilihan referensi lain soal suatu peristiwa? Celakanya, masyarakat kita nyatanya sudah terpengaruh dan di dunia maya pun mereka yang sudah terpengaruh mencoba mempengaruhi orang lain agar menonton tayang film tersebut. Mereka menyebarkan pamflet-pamflet yang berisikan jika ingin tahu sejarah Indonesia maka nontonlah, jika ingin tahu kebiadaban si anu maka nontonlah. Jika memang begitu, berarti bagi yang beragama Islam, mereka sudah menafikan ayat pertama yang sudah difirmankan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, ‘iqra’ yang berarti bacalah. Alamak, celaka nian hidup kita.

Sungguh saya prihatin melihat orang-orang lebih memilih nonton film G30S/PKI berulangkali daripada membaca buku. Sebab, setelah menonton tayangan G30S/PKI, tidak ada tindak lanjut bagi mereka untuk memperdalam sejarah Indonesia lebih jauh. Seperti yang dilakukan di beberapa desa dan sekolah-sekolah di daerah saya. Guru-gurunya begitu kencang ingin memutar berulang kali film G30S/PKI namun tidak ada tindak lanjut bahwa siswa itu harus membaca buku. Utamanya untuk membaca sejarah yang membahas tentang G30S/PKI. Sehingga mereka pun minim pengetahuan dan buntu ketika berbicara tentang sejarahnya sendiri. Jika begini adanya, pendidikan macam apa kalau seperti ini pada praktiknya? Padahal Soekarno sudah mengingatkan kita bahwa jangan sekali-kali kita melupakan sejarah yang sebagai pegiat literasi saya melihat pada parakitnya harus dilakukan dengan membaca sejarah. Sebab dengan membaca referensi sejarah yang ada dan terpercaya sehingga kita tidak lagi menjadi orang nyinyir dan cenderung merasa benar sendiri.

_______

*Hilmanrakatau, kelahiran Pandeglang, Banten, 26 tahun lalu. Relawan Rumah Dunia, peneliti di Rafe’i Ali Institute. Kini sedang penempuh Pendidikan Pascasarjana Kebijakan Publik FISIP UNPAD

Sumber: Geotimes

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Para prajurit bersenjata mengangkut para terduga anggota Pemuda Rakyat, pada 10 Oktober 1965, dua hari sebelum diumumkannya penangkapan Letkol Untung. [BETTMANN / GETTY IMAGES]

Peristiwa G30S 1965, penumpasan PKI, dan hari-hari sesudahnya

tirto_resser-01_ratio-16x9

Sebelum PKI Berdiri: Lingkaran Kaum Sosialis di Surabaya

Related posts
Your comment?
Leave a Reply