Islam, Komunisme, dan Bencana Ingatan Kolektif 65

162 Viewed Redaksi 0 respond
geotimes_aksi-229

Satu-satunya tragedi kemanusian sepanjang sejarah republik ini yang sulit sekali dilupakan tampaknya adalah konflik berdarah antara umat Islam dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyaknya cerita yang tersebar mengenai pembantaian yang dilakukan oleh masing-masing kelompok, telah menancapkan ingatan kuat—baik sebagai pelaku maupun korban—yang belakangan ini justru menemukan momentumnya setelah marak isu soal kebangkitan kembali komunisme.

Sulit untuk dipungkiri, Islam dan komunisme tampaknya menjadi seteru abadi yang menjadi bencana sejarah ingatan kolektif atas suatu tragedi konflik. Rekonsiliasi nampaknya terlampau sulit dilakukan, karena masing-masing belum dapat diyakinkan bahwa tragedi kemanusiaan itu tak akan terulang lagi.

Tak hanya sebatas ingatan kolektif mengenai konflik, keberadaan komunisme sebagai sebuah ideologi politik seringkali dipertentangkan dengan agama, karena komunisme identik dengan atheisme yang menganggap agama adalah “musuh”. Entah apakah karena Karl Marx pernah menyatakan “agama adalah candu bagi masyarakat” sehingga komunisme kemudian dianggap memusuhi agama, dalam hal ini Islam.

Berbagai peristiwa sejarah kelam soal pembantaian umat Islam oleh simpatisan PKI digambarkan sedemikian mengerikan, sehingga bisa saja muncul semangat balas dendam yang selalu saja menguat kembali dari masa kemasa. Diakui maupun tidak, Islam dan komunisme di negeri ini sepertinya masih terpengaruh oleh dosa-dosa masa lalu yang sulit sekali dihapus, meski masing-masing telah saling meminta maaf.

Para eks PKI justru semakin tertekan. Padahal mereka bukanlah pelaku, tapi telanjur dianggap mewarisi dosa-dosa pendahulunya yang dicitrakan tetap “komunis” yang memusuhi agama, walau kenyataannya mereka sesungguhnya juga beragama. Belakangan muncul isu demonstrasi oleh umat Muslim, di antaranya menegaskan penolakan atas isu kebangkitan komunisme yang dipersoalkan melalui pemberlakuan Perppu Ormas.

Mempertentangkan Islam dengan komunisme untuk kasus Indonesia nampaknya berangkat dari sebuah ingatan kolektif tragedi kemanusiaan tahun 1965-1966,  di mana persepsi komunis adalah “musuh agama” sehingga keberadaannya tak boleh hidup kembali. Ingatan kolektif atas peristiwa konflik yang memicu kebencian dan permusuhan ini justru menjadi bencana kebangsaan jika tak dapat diselesaikan. Kita sepertinya terus memelihara bencana itu, tanpa ada keinginan untuk mengantisipasi, bahkan menanggulanginya.

Upaya-upaya konstruktif ke arah rekonsiliasi, dengan membuka fakta sejarah soal kebenaran sesungguhnya terhadap tragedi 52 tahun yang lalu atau berdamai, sepertinya tak akan pernah terwujud. Padahal, memaafkan setiap kesalahan, terlebih mendamaikan akibat konflik-konflik masa lalu, pernah ditunjukkan Rasulullah Muhammad ketika peristiwa Fathu Mekkah.

Ingatan kolektif soal tragedi kemanusiaan antara umat Islam dan PKI memang berhasil dipropagandakan oleh rezim Orde Baru. Bahkan secara nyata penguasa “memanfaatkan” umat Islam pada waktu itu untuk “membereskan” siapa saja yang mendukung PKI. Pembantaian massal para pendukung PKI bukanlah isapan jempol, termasuk keterlibatan partai pimpinan D.N Aidit ini mengeksekusi umat Muslim, khususnya para santri dan ulama yang tercatat dalam bingkai sejarah.

Entah kenapa sulit sekali membereskan bencana ingatan kolektif ini, karena masing-masing memang diklaim sebagai “korban” sekaligus “pelaku”. Kedua indikator ini memang sulit dipertemukan, terlebih di alam demokrasi yang masing-masing menuntut keadilan ditegakkan.
Mempertentangkan Islam dan komunisme bukan berarti tak menganggap ada pihak-pihak lain yang ikut terlibat dalam pertentangan ini. Namun, yang sangat dirasakan, sedemikian viral pengungkitan sejarah masa lalu soal PKI yang sedemikian “memusuhi” kalangan Islam, pun sebaliknya, membuat propaganda agar umat Muslim “membenci” dan “memusuhi” PKI serta isu kebangkitannya.

Dominasi pertentangan PKI dan umat Muslim pada tragedi 1965-1966 justru menghiasi setiap lembar gelap sejarah, direkonstruksi terus menerus, sehingga kebencian demi kebencian tetap tumbuh subur tak lapuk dimakan perjalanan usia. Entah dengan cara apa menutup dan melupakan setiap catatan kelam sejarah gelap bangsa ini. Padahal, ishlah (mendamaikan) merupakan perintah agama agar kita keluar dari jeratan konflik antarkelompok sosial.

Rekonsiliasi sepertinya hanya mimpi di siang bolong. Sulit menjadi kenyataan bahwa bangsa ini terbebas dari ingatan kolektif yang membelenggu secara turun-temurun, baik umat Muslim maupun eks-PKI yang masing-masing terus menuntut keadilan. Sepertinya kebanyakan di antara kita mudah sekali menciptakan “musuh”. Padahal, musuh abadi yang diajarkan oleh semua agama adalah setan, yang justru seringkali tanpa sadar mengalir senada dengan aliran darah kita sendiri.

Sungguh tak mudah mendamaikan antara Islam dan komunisme. Padahal, dalam sejarah Islam sendiri, berbagai tragedi kemanusiaan, baik akibat peperangan atau permusuhan, terbangun sebuah peradaban karena satu sama lain saling memaafkan dan melupakan.  Maka, agar ingatan kolektif soal tragedi 1965 ini tidak menuai bencana lebih besar, kita memang perlu sama-sama saling menyadari, enough is enough, mengakhiri bencana sejarah ini dengan, sekali lagi, rekonsiliasi!

______

*Syahirul Alim, Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia. Penulis lepas, pemerhati sosial, politik dan agama.
Sumber: Geotimes.Co.Id
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Demonstrasi anti-komunisme di depan Istana Negara pada Juni 2016. [GETTY IMAGES]

Siapa pihak di balik isu kebangkitan PKI?

ilustrasiaguswidjojo_ratio-16x9

Agus Widjojo: “Generasi Muda Punya Independensi Melihat Tragedi 1965”

Related posts
Your comment?
Leave a Reply