Obituari | Perginya Rosidi, Sang Penyintas Panembong

265 Viewed Redaksi 0 respond
Abah Rosidi. Kredit foto: Instanonymous.com
Abah Rosidi. Kredit foto: Instanonymous.com
Fransiskus Pascaries

 

Satu dari sedikit orang yang bertahan dari kejahatan kemanusiaan tahun 1965 di Cianjur. Ia menjalani hidup dengan tegar, tanpa secuilpun dendam.

 

KABAR duka itu saya baca dari status Facebook Imam Shofwan semalam sekitar pukul 22.26. Tulisnya: Selamat jalan Abah Rosidi. Kebesaran hatimu adalah pelita. Samudra maafmu tak bertepi. Kau telan semua penjara dan kerja paksa dg gagah perkasa. Heningkan cipta.

Abah Rosidi meninggal Senin dini hari 8 Oktober lalu dalam usia 86 tahun.

Imam yang sehari-hari bergiat di Yayasan Pantau itu membagikan kembali naskah pendeknya berjudul Belajar dari Hidup Rosidi guna mengenang Rosidi. Imam mengulas buku berjudul Cerita Hidup Rosidi karya wartawan senior sekaligus petani kopi, Tosca Santoso, yang sudah bertahun-tahun hidup dan berkarya di sebuah kampung di mana Rosidi tinggal: Sarongge.

Sebelumnya, pada 7 Oktober pagi, Tosca menulis di akun Facebook-nya: Sejak melek semalaman nonton wayang golek, tgl 23/9 lalu, Rosidi sakit, sesak pernafasan. Semoga lekas sembuh Abah…”

Pada 12-13 Mei lalu, saya bersama belasan peserta Kelas Menulis Narasi di Pantau berkunjung ke Sarongge, Cianjur, Jawa Barat.

Masih jelas dalam ingatan, bagaimana kami mengunjungi tempat yang dulu disebut Kamp Panembong. Kami bertandang ke sana bersama Wawan Sudrajat, anak Rosidi dari Oneh, istri keenam sekaligus yang terakhir. Oneh meninggal dunia 1 April 2016.

***

Wawan Sudrajat kembali mendatangi bekas kamp itu. Di sanalah pada tahun 1968 ia dilahirkan. Di sana pula Rosidi pernah menjalani hukuman penahanan dan kerja paksa.

“Mungkin bangunannya dulu dekat ke jalan juga seingat saya. Di sini ada bangunan besar, di dalamnya ada beberapa keluarga gitu. Dalamnya kan kosong, nah sama teman-temannya Abah (Rosidi) itu dibikin sekat-sekat untuk keluarga. Ada beberapa keluarga di sini,” Wawan berkisah.

Rosidi menjalani penahanan dan kerja paksa selama 13 tahun. Selama periode itu, ia beberapa kali dipindah. Ia pernah jadi orang tahanan di Kamp Panembong antara 1965 hingga 1976. Lantas ia dan banyak tahanan lain dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Kebon Waru, Bandung, tahun 1976 sampai 1978.

Secara paksa ia menjalani pekerjaan semacam mengeruk pasir sungai, memasak di rumah makan, memecah batu, merintis perkebunan, dan sebagainya. Sebagian besar hasil pekerjaan-pekerjaan itu harus ia serahkan kepada tentara.

“Selama Abah di sini, 12 tahun, Abah selalu dioper-oper. Ada ke Cihea, ada ke Cilutung. Nah, terakhir Abah di Kebon Waru selama dua tahun. Selama Abah di sini, saya kan udah ngikut nih sama Emak, sehingga saya lahir di sini. Abah itu untuk menafkahi emak, caranya Abah itu kalau malam hari ngobor. Mencari swike. Ngobor kodok. Dari situ Abah bisa jalan sampe dua kilometer,” kata Wawan di bekas lokasi Kamp Panembong itu.

Kini di seberang lahan itu berdiri Hotel Bydiel. Posisinya persis di tepi jalan raya Cugenang-Cianjur. Sebelum tahun 1965, lahan yang berada sekitar 10 kilometer dari Istana Cipanas itu merupakan gudang penyimpanan karet bahan pembuatan ban. Lahan itu dimiliki warga keturunan Cina yang diduga terlibat G30S. Asetnya disita oleh tentara dan digunakan untuk menahan para warga yang bernasib apes tahun 1965. Penahanan di Kamp Panembong itu berlangsung hingga 1978.

Tempat itu kini berpagar batako setinggi kira-kira dua meter. Ada pohon pisang, kayu sengon, ilalang, dan kolam ikan yang belum lama dibuat. Di bagian depan tertulis, lahan ini dimiliki sebuah perusahaan.

Dalam buku Cerita Hidup Rosidi, Tosca Santoso menuliskan, Komandan Kamp Panembong (Letnan) CPM Dadang Mulyadi pernah bercerita pada anaknya, ada sekitar 1500 tahanan politik ’65 di Cianjur. Mereka ditangkap dari berbagai pelosok Jawa Barat seperti Cianjur, Bogor dan Sukabumi. Para tahanan kebanyakan ditampung di Kamp Panembong, yang sekarang berada di wilayah Desa Mekarsari, Kecamatan Cianjur, Cianjur, Jawa Barat.

Saat bertandang ke Sarongge, kami menemui sebagian anggota dari dua keluarga mantan tahanan politik di Cianjur. Pertama, keluarga Rosidi. Kedua, rekan sebaya dan senasibnya semasa di tahanan Endang Ahyudi. Mereka sudah laksana saudara. Kami juga berbincang dengan Entin Kartini (46) anak perempuan Rosidi, yang menjalankan bisnis pembuatan sabun, alat musik tiup karinding yang Rosidi mainkan, dan sejumlah kerajinan tangan lain.

Penahanan pada Rosidi bermula pada 10 Oktober 1965. Tentara mendatangi rumah Salna, pamannya, yang memang sudah diincar. Sebuah mobil tentara berhenti di pinggir jalan, tak jauh dari dekat rumah sang paman yang biasa ia sapa Mang Ocon itu. Kebetulan, Mang Ocon sedang masuk bilik, yang hanya tersekat kain.

“Salna mana?” tanya petugas itu.

“Tidak ada,” jawab Rosidi berbohong.

“Ke mana dia?”

“Ke sawah.”

“Kamu siapa?”

“Saya Rosidi, keponakan Mang Ocon.”

Tentara meminta identitas Rosidi. Dengan polos dan bangga ia menyerahkan kartu Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri) kepada tentara berbedil itu. Kartu Sarbupri adalah satu-satunya tanda pengenal Rosidi pada masa itu. Sebulan sekali, kartu itu dipakainya untuk mengambil jatah beras dan ikan asin di pabrik teh tempatnya bekerja. Dengan kartu itu pula, saat lebaran datang, Rosidi mendapat hadiah kain baru dan daging sapi. Kartu itu kadang menolong pemiliknya saat sakit dan perlu perawatan dokter, atau untuk bepergian gratis.

“Kamu gantikan pamanmu. Naik ke mobil!” hardik tentara pada Rosidi.

Rosidi tak berani bertanya ini dan itu, karena tentara mengarahkan moncong senjata kepadanya. Ia patuh saja saat diperintah untuk jongkok. Perlahan mobil pun meninggalkan Cikawung menuju Sukanegara. Itulah hari di mana Rosidi mengawali masa 13 tahun sebagai tahanan politik. Ia meninggalkan Yayah, anak kedua Rosidi dari Mamah, istri pertamanya. Rosidi mengira, ia hanya akan sebentar ditahan. “Paling lama satu-dua hari. Jadi, saya hanya minta sarung.”

“Saya ingat disuruh Mamah secepatnya mengantar sarung. Abah sudah di dalam truk,” kata Yayah yang berusia sembilan tahun kala itu, dalam buku Cerita Hidup Rosidi.

Rosidi tak mengira Kartu Sarbupri itu ternyata justru membuatnya ditangkap. Sarbupri berdiri pada 17 Februari 1947. Pada masa itu, buruh perkebunan adalah golongan buruh terbesar di Indonesia, dan Sarbupri didirikan dengan tujuan untuk memperbaiki taraf hidup buruh dan kemerdekaan nasional yang penuh. Hanya dalam waktu singkat, Sarbupri sudah punya 520 ribu anggota. Basis massa mereka utamanya berada di daerah yang punya banyak lahan perkebunan: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

Selama menjadi anggota Sarbupri, Rosidi hanya disibukkan dengan urusan memetik teh merah di pabriknya. Sebagai pecinta Sukarno ia selalu mencoblos Partai Nasional Indonesia (PNI), namun ia tak terlibat dalam kegiatan politik apapun. Selama menjadi tahanan politik, Rosidi kehilangan hak pilih. Setelah mendapatkan kembali hak politiknya yang dicabut selama 13 tahun, ia selalu mencoblos Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam setiap pemilihan umum.

Saat huru-hara 1965 meletus, Rosidi sedang bekerja di Goalpara, Sukabumi. Ia dinasihati salah satu majikannya, agar tak berurusan dengan politik. Kepada Rosidi, majikannya itu bercerita bahwa Pemuda Rakyat-lah yang membunuh jenderal-jenderal di Jakarta.

Rosidi, yang saat penangkapan itu berusia 34 tahun, mengaku tak menyesal menjadi pengganti pamannya. Kata Rosidi, “Kalau waktu itu Mang Ocon yang ditangkap, pasti akan lebih berat. Dia sudah tua. Kasihan dipaksa bekerja macam-macam. Saya masih muda, lebih kuat bekerja.”

Rosidi menjalani proses interogasi setelah ditangkap. Ia bingung setiap kali ditanya “Saudara ikut membunuh jenderal di Halim?” Jangankan ke Jakarta, saat itu ia bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke kota Cianjur, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari kampungnya. Pertanyaan macam itu sudah menjadi semacam prosedur baku bagi pihak militer yang berkuasa pada masa itu.

Wawan dan Rosidi bercerita bahwa selama menjalani proses interogasi, Rosidi biasanya selalu menjawab jujur setiap pertanyaan. Hal itu dilakukan para tahanan untuk menghindari pukulan atau bentuk siksaan lain dari para interogator.

“Kata Abah dulu, yang diperiksa itu semua kalau bilangnya ‘iya’, semua selamat. Nggak kena pukul, nggak kena siksa,” kata Wawan pada rombongan kami.

Tapi, ada dua di antara para tahanan itu yang bunuh diri dengan jalan menceburkan diri ke sumur di Kodim dan Ampera.

***

Bersama Rosidi kami juga bertandang ke rumah Endang Ahyudi. Rosidi dan Endang bersahabat baik sejak menjadi sesama tapol di Kamp Panembong. Rumah Endang kami tempuh dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit dari bekas Kamp Panembong.

Tahun lalu Endang terserang stroke, sehingga ia sedikit kesulitan untuk berbicara. Tapi ia tampak selalu berusaha untuk ramah menyapa dan menerima salam kami yang bertandang ke rumahnya.

Ia ditangkap pada 1965 karena aktif di Barisan Tani Indonesia.

“Saya dulu tahanan tipe C,” katanya perlahan.

Secara umum, pihak penguasa militer pada tahun 1965 membagi para tahanan ke dalam tiga golongan. Golongan A berisi orang-orang yang dianggap terlibat dan bahkan diadili. Golongan B mencakup para kader penting dan pimpinan penting Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara golongan C terdiri dari mereka yang dianggap sebagai simpatisan PKI atau anggota dari organisasi underbouw PKI: Barisan Tani Indonesia, Serikat Buruh, dan sebagainya.

Aminah, istri Endang, yang sekarang menemani hidupnya bertutur dengan terbata menahan tangis, saat kembali menceritakan kisah itu.

Istri pertama Endang tak tahan menghadapi tekanan dari keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ia menceraikan Endang, lantas menikahi Aminah, yang seperti halnya Oneh, juga mengalami pahit getirnya hidup di penjara bersama sang suami. Mereka tahu persis bagaimana rasanya mengonsumsi nasi beunyeur dari remah-remah beras. Tak jarang nasi yang mereka santap sudah bercampur kerikil.

“Makan nasi penuh kerikil. Kodok juga dimakan. Bukan dagingnya, tulangnya juga dimakan. Dikasih singkong yang pahit. Daripada kelaparan. Gimana?” kata Aminah kepada kami dengan suara bergetar sambil meneteskan air mata.

Anak mereka juga kerap berkelahi dengan teman sebayanya, karena dihina sebagai anak tapol.

Meski demikian, segetir apapun hidup yang dijalani, Aminah dan Endang sepakat untuk tidak menyembunyikan kondisi ini dari anak-anak dan calon menantunya. Para calon menantu pun tak ada yang merasa keberatan.

Perasaan rendah diri itu juga pernah dialami Entin Kartini (46), putri Rosidi dari Oneh, yang seperti Wawan juga lahir di Kamp Panembong.

“Jadi, semua anak-anaknya Abah [Rosidi] itu dulu minder. Kayak nggak mau ada orang yang berteman, nggakada yang mau nikah. Karena, [ada ungkapan] jangan nikah sama si Anu, itu anak PKI. Jadi minder juga. Tapi saya nggak terima di dalam hati [disebut] anak PKI, dan yang dibunuh itu siapa? Masak masyarakat bisa bunuh jenderal? Saya sering ngebantah juga kalau ada orang ngomong kaya gitu,” ujar Entin.

 

rosidi-toscaDibandingkan Endang, Rosidi cukup beruntung. Hingga akhir hayatnya, Rosidi tinggal di Dusun Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dusun itu punya panorama indah dengan Gunung Gede di sisi timur laut. Tapi pemandangan indah itu kontras dengan pengalaman para mantan tahanan politik seperti Rosidi yang terkena imbas prahara 1965.

Rosidi masih mampu berjalan cukup lancar di jalanan rata meski dengan bantuan tongkat berukuran sekitar satu meter. Tawanya kerap berderai lantang. Telinganya masih mampu mendengarkan lawan bicara dari jarak 2-3 meter. Lelaki yang sampai sekarang masih menghisap dua bungkus rokok per hari ini juga kerap bercanda dengan lawan bicaranya. Saat berganti menjadi ‘korban’ candaan, ia biasa tertawa lepas sambil memamerkan rongga mulutnya yang telah ompong.

“Kenapa Abah (Rosidi) awet muda? Karena Abah selama ini tidak diambil hati. Ah, udah aja. Yang berlalu biarlah berlalu. Kalau teman yang lain kan ada yang sakit stroke, sakit-sakitan sepulang dari Kebon Waru,” kata Wawan anaknya kepada kami.

Dari enam perempuan yang pernah Rosidi nikahi, ia punya sepuluh anak, 28 cucu, 17 cicit dan seorang bao. Jaket kulit sering membungkus tubuh kurusnya. Kacamata minus maupun kacamata hitam untuk bergaya selalu bertengger di telinga dan hidungnya. Sejak muda ia dikenal selalu tampil rapi bin necis.

Di rumah Endang, Rosidi memamerkan beberapa koleksi kacamata dari tas kecilnya. Kami semua terbahak melihat polah dan mendengar ceritanya.

Soal Rosidi, yang berkali-kali menikah itu, dalam sebuah kunjungan ke Sarongge seorang wartawan pernah berkata, “Wah, bapak ini lebih hebat dari Brad Pitt.”

Pria penggemar cincin batu akik itu balik bertanya, “Brad Pitt itu siapa?” Semua terbahak.

Brad Pitt adalah aktor Hollywood, mantan suami aktris Angelina Jolie, yang pernah pula menikah dengan bintang film Jennifer Aniston.

Di rumah biliknya sekarang Rosidi, Wawan dan anak perempuan Rosidi yaitu Entin Kartini berjualan alat musik tiup karinding, beberapa kerajinan tangan dari tanah liat, serta sabun buatan tangan. Mereka biasa menjual hasil pekerjaan mereka pada para pengunjung yang datang. Kalau ada ajang pameran di Jakarta, mereka biasa menjual hasil karya mereka itu.

Dalam kegiatan penanaman pohon di Desa Sukatani-Sarongge Februari 2016, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar bertemu Entin. Siti membeli 200 batang sabun buatan Entin. Uang sebanyak Rp. 3 juta pun masuk ke kantong Entin.

***

Rombongan kami menginap di Saung Sarongge, hunian berbentuk rumah panggung yang disewakan bagi para pengunjung di dusun itu. Kesannya bersih dan tertata rapi.

Saung Sarongge juga menyediakan fasilitas makanan khas pedesaan yang sederhana namun lezat, macam sambal lalap dan ayam, sayur asam, dan sebagainya.

Dinding papan di Saung Sarongge juga memajang sejumlah foto kunjungan Presiden Yudhoyono beserta ibu negara ke sana pada 2013. Tampak pula dalam foto Wakil Direktur Utama Bank BNI Felia Salim dan Menteri Kehutanan Zulkifli Lubis.

Mengenai kunjungan ini, Tosca Santoso punya cerita. Saat itu, Rosidi berada di lokasi acara karena ingin mendengarkan pidato SBY. Tosca terheran-heran dan bertanya-tanya dalam hati, “Kok duduknya diapit tentara gitu?”

Tosca belum mengenal Rosidi secara dekat, karena ia hanya bertandang ke Sarongge untuk urusan penanaman pohon.

Seusai selesai acara itu, Tosca bertanya pada Rosidi, “Itu bapak tadi siapa yang mepet gitu?”

“Aparat. Dari tadi malam sudah menginap di rumah Aki Emi. Dia bilang, kalau berangkat ke tempat acara harus bareng dia,” jawab Rosidi.

Orang itu menanyakan kepada Rosidi alasan kedatangan Ribka Tjibtaning ke Sarongge beberapa waktu sebelumnya. Rosidi mengaku tak tahu persis apa alasannya.

Rosidi mengaku mencoblos banteng dalam setiap pemilu, saat orang itu menanyakan parpol apa yang dipilihnya dalam setiap pilkada.

Ia lantas menunjukkan kartu anggota PDIP, yang diterbitkan DPC PDIP Cianjur tahun 1999. Rosidi cemas, karena kartulah yang membuatnya ditangkap setengah abad lalu.

Dusun Sarongge sendiri berada di Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Dalam kunjugannya saat itu, Presiden Yudhoyono bersilaturahmi dengan masyarakat sekitar Gunung Gede dan melakukan penanaman bibit pohon secara simbolik.

“Kami datang hari ini tekadnya sama, untuk berbakti pada negeri ini, melestarikan lingkungan yang ada di tempat ini, sekali lagi untuk masa depan negeri yang sama-sama cintai,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.

Selain dua pohon yang ditanam secara simbolik, Presiden dan Ibu Negara menyumbang 200.000 bibit pohon untuk ditanam di kawasan TNGP.

Presiden juga menyumbangkan uang tunai senilai Rp1,175 miliar kepada penduduk sekitar kawasan konservasi hutan tersebut.

“Pak SBY itu berkesannya di sini, dia kasih sumbangan Rp.1.175 milyar. Jadi, masjid yang ini 100 juta, masjid yang di bawah 100 juta, kelinci 500, domba 250, puskesmas, posyandu, trus apa lagi ya? Pokoknya jumlah semuanya segitu,” kata Entin kepada kami di rumah mereka.

Rosidi senang dengan kunjungan SBY itu. Karena itu, seandainya memiliki Kartu Tanda Penduduk DKI Jakarta, Rosidi mengaku akan memilih Agus Harimurti Yudhoyono dalam Pilkada 2017 lalu. Agus tersingkir di putaran pertama dengan perolehan sekitar 17 persen suara pemilih. Di putaran kedua Anies Baswedan – Sandiaga Uno lantas mengalahkan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

“Makanya Abah teh rada ngedukung Agus. Tapi kalah,” kata Rosidi pada kami.

***

Rosidi dan Endang Ahyudi merupakan dua di antara mungkin ribuan orang yang menjalani perbudakan serta pemenjaraan dalam tragedi kemanusiaan tahun 1965. Pengadilan Rakyat Internasional atau International People’s Tribunal (IPT 1965) di Den Haag, Belanda, pada Juli 2016 menyatakan Indonesia bertanggung jawab atas sepuluh tindakan kejahatan HAM berat yang terjadi pada 1965-1978. Sepuluh kejahatan itu antara lain: pembunuhan massal, pemenjaraan, penyiksaan, perbudakan, penghilangan paksa, kekerasan seksual, persekusi atau pengasingan, propaganda kebencian, keterlibatan negara lain, genosida.

Rosidi dan Endang, begitu juga para tapol penghuni Kamp Panembong lain, adalah korban dari kejahatan kemanusiaan lebih dari setengah abad silam. Sementara banyak tahanan di Jawa Tengah, Bali, Maumere-Nusa Tenggara Timur, Moncongloe-Sulawesi Selatan, dan sejumlah tempat di tanah air, dibunuh. Para tertuduh komunis di Jawa Barat, termasuk di Cianjur, tidak mengalami pembunuhan massal. Hal ini terjadi karena peran dan wibawa dari Ibrahim Adjie selaku Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi.

Dalam diskusi di Pantau 14 Januari 2017, dan juga dalam bukunya, Tosca mengatatakan, Ibrahim Adjie mendatangi Suharto dan meminta agar Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pimpinan Sarwo Edhie Wibowo tidak masuk dan melakukan penangkapan di Jawa Barat. Ibrahim lantas berjanji untuk menangani persoalan ini tanpa intervensi pihak di luar Jawa Barat.

“Suharto cukup berhitung juga. Satu, dia (Ibrahim Adjie) senior. Kedua, tentara yang loyal ke Suharto kan hari-hari pertama juga tidak terlalu banyak. Jadi, Suharto memutuskan untuk alokasikan tentara yang sangat loyal itu, mertuanya Pak SBY: Sarwo Edhie Wibowo,” kata Tosca.

Ibrahim Adjie sebelumnya pernah mendapat tugas untuk menangani pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat di awal dekade 1960-an. Berkaca dari pengalamannya dalam menghadapi pemberontakan yang memakan banyak korban rakyat jelata, ia tak ingin ada rakyat kecil yang kembali menjadi korban pembunuhan.

“Pembunuhan itu ada, tapi tidak semasif di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena itu, perintah dia ke Kodim, ke Danrem, ke bawah terus itu: tangkap saja, tapi tak boleh dibunuh. Dan itu diikuti,” lanjut Tosca.

***

Pada 13 Mei 2017 rombongan kami beranjak pulang dari Sarongge menuju Jakarta saat sore menjelang gelap. Rasa letih membuat saya ingin memejamkan mata dalam perjalanan. Tapi saya terus terngiang pada sosok Rosidi, Wawan Sudrajat, Entin Kartini, Endang Ahyudi, Aminah, dan sejumlah orang lain di Sarongge. Mereka manusia yang berjuang penuh martabat.

Mereka pernah menjalani hidup penuh pengorbanan di tahanan, terpisah dari keluarga dan orang-orang terdekat, menjalani kerja paksa, dan berbagai bentuk penghinaan pada kemanusiaan. Tapi mereka bertahan.

Di Sarongge ada banyak jalan tak mulus di rute menanjak. Kendaraan yang menyusuri jalan itu harus dipacu perlahan. Begitu juga terjal dan tak mulusnya perjalanan bangsa Indonesia dalam mencari duduk persoalan sebenarnya dalam persoalan 1965. Tapi, bagaimanapun kita harus tempuh perjalanan itu.

Pada 10 Oktober 1965 Rosidi menjalani awal masa penahanannya di Cikawung, dan 52 tahun kemudian kisah ini saya tulis. Kisah sederhana dari sosok luar biasa, yang tak pernah mengotori hatinya dengan secuilpun dendam.***

 ***

Penulis adalah seorang penulis lepas, alumnus kursus narasi di Yayasan Pantau

Sumber: Indoprogress.Com
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Mbah Suro. FOTO/Istimewa

Baret Merah Menggebuk Mbah Suro

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

Kedutaan Besar AS mengikuti berjalannya pembunuhan massal di Indonesia pada tahun 1965

Related posts
Your comment?
Leave a Reply