Sulami, Sosok perempuan revolusioner yang senantiasa berjuang demi kaumnya

4447 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Sumanto | Wed Jul 07, 2010 3:21 pm
Apapun yang dikatakan orang tentang GERWANI (Gerakan
Wanita Indonesia) adalah sebuah kebencian mendalam akan sosok
perempuan-perempuan pelacur dan amoral, yang tega melakukan perbuatan keji dan kejam terhadap tujuh jenderal pada peristiwa G/30/S/PKI. 

Sepenggal kalimat singkat di atas sudah cukup menggambarkan bagaimana blackprop terhadap organisasi wanita yang cukup besar pada masa kolonial hindia belanda, jaman pendudukan jepang hingga awal kemerdekaan yaitu GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Segala fitnah yang dilancarkan oleh Angkatan Darat di bawah kepemimpinan jenderal Soeharto pada peristiwa G/30/S/PKI tahun 1965 lalu ditambah lagi dengan propaganda media massa pada saat itu telah berhasil meracuni opini publik, sehingga terbentuk pikiran-pikiran yang keliru terhadap
organisasi-organisasi massa komunis (PKI) dan terutama terhadap organisasi perempuan Gerwani.

Menurut Soeharto, mereka (Gerwani, red) terlibat dalam peristiwa pembunuhan tujuh jenderal, yang selanjutnya di sebut Pahlawan Revolusi. Bahkan mitos selama ini menceritakan, bahwa perempuan-perempuan Gerwani menari-nari provokatif, dengan rambut semrawut dan dada telanjang mengelilingi mayat jenderal-jenderal itu dan selanjutnya bermain-main dengan
kemaluan mereka. Akhirnya mereka mencungkili mata para jenderal itu, dan memotong kemaluan mereka. Betapa mengerikan perbuatan tersebut dan lebih mengerikan lagi ternyata hal itu hanyalah berita bohong yang sampai saat ini masih dipercaya di kalangan masyarakat Indonesia.

Menguak kebenaran

Sampai akhirnya tahun 1987 sejarawan Ben Anderson membongkar sebagian kebohongan Orde Baru tentang peristiwa 1 Oktober 1965 atau biasa disingkat Gestapu. Ia menerjemahkan dan membuat analisis berdasarkan laporan dokter yang memeriksa jenazah tujuh perwira yang dibunuh di Lubang Buaya. Laporan itu dengan jelas menyatakan tidak ada alat kelamin yang dipotong, mata yang dicungkil dan sayatan silet di sekujur tubuh. Dengan kata lain bahwa propaganda yang ditiupkan Angkatan Darat dan disebarluaskan oleh media massa sekitar tahun 1965-1966 adalah bohong belaka.

Kudeta yang bisa dikatakan paling besar sepanjang sejarah bangsa Indonesia ini, telah memakan korban 800.000 ribu hingga satu juta manusia yang tidak bersalah. Dalam kondisi yang sedang panas dan tuduhan keterlibatan Gerwani semakin kencang dihembuskan, Sulami yang saat itu menjabat sebagai sekjen (Sekretaris Jenderal) II DPP Gerwani mulai sadar bahwa dirinya juga menjadi sasaran penangkapan. Angkatan Darat mulai menyisir perkampungan dan perkantoran yang diduga terlibat Gestapu.
Setelah setahun hidup sebagai buronan, akhirnya Sulami tertangkap juga. Penjara menjadi pilihan yang tak dapat dihindari lagi. Setelah sebelumnya menjalani interogasi dan berbagai macam penyiksaan, tanpa dihadapkan ke pengadilan Sulami mendekam dalam tahanan selama sembilan tahun. Namun, penjara tidak membuatnya ciut, akan tetapi sebaliknya semakin meneguhkan hatinya bahwa suatu saat nanti kebenaran akan terungkap.

Demi kebenaran itulah, dalam masa tahanannya Sulami menulis sebuah buku yang diberi judul “Perempuan, Kebenaran dan Penjara” (Kisah nyata wanita dipenjara selama 20 tahun karena tuduhan makar dan subversi). Dalam buku ini Sulami menceritakan pengalamannya sejak jaman
perjuangan, apa yang dialaminya dalam tahanan bersama dengan kawan-kawan seperjuangan lainnya. Penyiksaan-penyiksaan oleh sipir-sipir penjara, bahkan pelecehan seksual yang dialami oleh kawan-kawannya di rumah tahanan tersebut. Hingga kerinduannya pada kampung halaman tercinta.

Setelah sembilan tahun meringkuk di tempat yang tak seharusnya, Sulami akhirnya di hadapkan ke pengadilan. Hal inilah yang memunculkan pertanyaan besar dalam benaknya, mengapa setelah
sembilan tahun di penjara baru hari ini ada pengadilan untuk dirinya? Bukankah penguasa bisa langsung menjatuhkan hukuman padanya tanpa butuh fakta, bantahan, dan argumen atau alibi apapun?

Di pengadilannya, Sulami membantah keterlibatannya dalam peristiwa makar dan subversi seperti yang dituduhkan padanya. Pengadilan menjadi ajang kebebasan untuknya bercerita tentang apa yang dirasakan dan diketahuinya. Serta kejahatan yang dilakukan penguasa pada peristiwa ‘65. Akan tetapi pengadilan pada masa orde baru bukanlah pengadilan yang membela kebenaran, melainkan pengadilan yang menyelamatkan kekuasaan.

Akhirnya, Sulami divonis 20 tahun potong masa tahanan dengan tuduhan makar dan subversi seperti yang dituduhkan sebelumnya. Walaupun harus meringkuk kembali dalam penjara, Sulami merasa lega sebab statusnya jelas sebagai tahanan politik. Maka ia menjalani kehidupan di
bui seperti sembilan tahun sebelumnya.

Sulami dan Gerwani

Sulami sebagai salah satu tokoh Gerwani, aktif melakukan kegiatan kursus-kursus pemberantasan buta huruf di kalangan rakyat miskin di desa-desa, memberi penyuluhan tentang seks pada perempuan dan anak-anak, serta mengajak perempuan berjuang melawan poligami. Sebab ia menilai poligami pada hakekatnya merendahkan martabat perempuan. Karena Lelaki merasa lebih maju dan bisa menjadi tulang punggung penghidupan keluarga, maka lelaki merasa pantas untuk
melakukan praktek poligami.

Sulami berpandangan bahwa poligami adalah bentuk lain penindasan kaum perempuan, sebab secara psikologis perempuan merasa tersiksa jika mengalami perkawinan ber-madu. Tetapi karena budaya feodal yang masih mengakar, perempuan dibatasi aksesnya sehingga tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima keputusan suaminya untuk beristri lagi. Selain itu, Sulami dibawah Gerwani juga aktif memperjuangkan persamaan hak laki-laki dan perempuan di dalam perburuhan, dan hak-hak perempuan pekerja seks.

Pada dasarnya organisasi ini berdiri untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi kaum perempuan terutama perempuan kelas menengah ke bawah, yang notabene berpendidikan rendah bahkan sama sekali buta huruf. Gerwani bergerak bersama ibu-ibu rumah tangga, menyikapi
permasalahan-permasalahan dan isu-isu feminis yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Karena salah satu prinsip organisasinya adalah garis massa. Sesuai kebutuhan anggota (dalam hal ini perempuan, red).
Aktif di YPKP

Selepas dari bui, Sulami bersama kawan-kawan di antaranya Pramudya Ananta Toer, Hasan Raid, Koesalah Subagyo Toer, Sumini Martono, dr. Ribka Tjiptaning dan Soeharno mendirikan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/66 (YPKP 65) atau Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre, yang dikuatkan dengan Akte Notaris No 1/7 April 1999 dan di tanda tangani oleh notaris Ny. Nanny Wahjudi SH.

Yayasan tersebut didirikan untuk meneliti dan mengungkapkan data pembunuhan massal 1965/1966 seakurat mungkin. Sehingga angka-angka jumlah korban tidak lagi menjadi angka kira-kira dan praktek pembunuhan dan perlakuan brutal tersebut tidak hanya menjadi dongeng. Dengan angka-angka dan pengungkapan praktek, YPKP berusaha menunjukkan bahwa perbuatan di masa lalu itu bukan hanya tidak benar dan tidak sah, melainkan sangat salah dan keliru untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, Sulami dalam sambutan deklarasi pendirian YPKP menyatakan bahwa Jenderal Besar Soeharto sebagai pelaksana utama pembunuhan perlakuan yang salah dan keliru tersebut harus dimintai pertanggung jawaban.

Sulami selaku ketua YPKP bersama anggota lainnya terus melakukan penelitian dengan membongkar makam para korban pembunuhan massal tersebut. Di usianya yang sudah mencapai 74 tahun tidak menghalanginya untuk terus bekerja menguak kejahatan pemerintah orde baru.
Sayang sekali, sebelum semua tujuan mulianya tercapai, Tuhan telah mengakhirkan perjuangannya di usia 76 tahun. Tepat pada bulan oktober 2002, Sulami wafat.

Wafatnya Sulami, bukan berarti mati pula semangat revolusionernya. Akan tetapi sebaliknya, justeru akan semakin mengobarkan jiwa perlawanan, terutama bagi perempuan. Bahwa perjuangan perempuan hari ini pada hakekatnya bukanlah melawan laki-laki, tapi lebih pada
membebaskan diri dari budaya feodal yang mengungkung kebebasan perempuan untuk berfikir dan bertindak maju. Selain itu, perempuan harus terus berjuang untuk mengembalikan fitrahnya sebagai manusia yang seutuhnya, tanpa dominasi dari pihak manapun. Tunduk tertindas atau bangkit melawan, sebab diam dalam ketertindasan sama halnya dengan penghianatan.

Nama : Sulami
Lahir : 1926
Meninggal : Oktober 2002
Profesi : Sekretaris Jenderal GERWANI
Organisasi terakhir : Pendiri dan Ketua YPKP’65 (Yayasan Peneliti Korban Pembunuhan) 1965/1966

Beberapa buku karya Ibu Sulami :

1. “Si Bagus Menentang Arus” Sepenggal Cerita Masa Lalu, Penerbit : Cipta Lestari, Jakarta, Juni 2001
2. ” Merentang Purnama” Sragen di duduki Belanda, Penerbit : Cipta Lestari, Jakarta, Januari 2001

3. “Perempuan-kebenaran dan Penjara” Kisah nyata wanita dipenjara 20 tahun karena tuduhan makar dan subversi,  Penerbit : Cipta Lestari, Juni 1999

4. “Perempuan Dalam Arus Zaman” (Buku Seri ke-2 tentang Kartini), Penerbit : Cipta Lestari, Agustus 2001

5. “Kebenaran tentang Gerwani, Aspek Gender Rezim Soeharto”, Rangkuman : WF. Wertheim, Sulami dan Sri Suharti, Penerbit : Cipta
Lestari, Maret 2002
http://lapakkaset.sos4um.com/t978-jejak-sulami-gerwani

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

NAPAK TILAS | Mengenang Tempat Penyiksaan Tahanan Politik 1965

Pembunuhan Massal Indonesia; Penggalian

Related posts
Your comment?
Leave a Reply