Catatan Bedah Buku “Berlayar di Tengah Badai”

1379 Viewed Redaksi 0 respond
Illustrasi: Karya Amrus Natalsya, perupa dan pendiri SBT (Sanggar Bumi Tarung) "Mata Malaikat sebagai saksi".

Oleh: Misbach Tamrin

Demi buat kesekian kali, saya sebagai perupa, narasumber sentral sekaligus saksi dan pelaku korban peristiwa tragedi kemanusiaan 1965 yang telah tertuang dalam buku biografi saya hasil karya Hairus Salim dan Hajriansyah, mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua partisipan dalam mensukseskan terselenggaranya perhelatan Bedah Buku “Berlayar Di tengah Badai” yang telah berlangsung di Pondok Wisata Tambak Yuda Banjarmasin tgl 30 Januari 2016 yang lalu.

Disamping kepada kedua penulis Hairus Salim dan Hajriansyah, terutama juga ditujukan kepada panitia penyelenggara LKtiga Banjarmasin dan para penghadir yang dengan tulus ikhlas berani menampilkan figur ketokohan “korban ’65” selaku putera daerah Banjar, selama kurun waktu yang panjang rentan (resisten), sensitif dan traumatis tersentuh untuk disinggung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di daerah ini. Bahkan berkat inisiasi penyelenggara, telah saya dapatkan kesempatan yang amat berharga, dengan dipertemukan dan disandingkannya kembali kami selaku dua kawan yang sejak berpuluh tahun berpisah, antara Kusni Sulang dan saya.

Kusni Sulang adalah seorang penyair Lekra terkenal yang setelah peristiwa G30S 1965 meletus sedang berada di Tiongkok. Karena tidak bisa pulang, kemudian selama beberapa lama melanglang buana sebagai “pengembara” dalam status “pelarian-politik” (eksil). Hingga ia bermukim di Paris sambil mengelola “restoran Indonesia” bersama para eksil lainnya semisal penyair Sobron Aidit almarhum.

Selelah masa reformasi,para eksil berkesempatan pulang ke tanahair. Termasuk Kusni Sulang laksana burung enggang (satwa simbolis yang diagungkan rakyat Dayak Kalteng), hinggap memulangkan dirinya kembali, setelah beberapa lama terbang jauh meninggalkan sarangnya. Sedangkan saya, setelah dibebaskan ke masyarakat dari menjalani masa tahanan rezim Orba selama 13 tahun, tak pernah samasekali berkisar meninggalkan tanah air, kecuali pernah keluar negeri sebentar mengunjungi Mekkah, Jeddah dan Medinah dalam rangka berhaji di tahun 2007 yang lalu.

Bagi kami berdua yang sama-sama seniman Lekra, Kusni Sulang selaku penyair (sastrawan) eksil dan saya sebagai perupa mantan tapol, bernasib sama sebagai korban peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965. Apa yang di istilahkan dengan kata “rekonsiliasi” memang merupakan impian atau mimpi yang ideal dan dirindukan, terpendam lama di lubuk sanubari kami selama ini. Demi menghilangkan beban derita terdiskriminasi dan terstigmatisasi yang kami rasakan demikian menyakitkan itu. Tapi yang ternyata kami petik dalam perjalanan kiprah era reformasi selama ini, yang telah menyajikan kebebasan berpendapat dan berekspresi itu, kelonggaran nuansa “rekonsiliasi” dapat kami hela dan kecap dari pendekatan pribadi perorangan di pihak kami sendiri yang secara aktif mengembangkan kesedaran subyektif kami secara maksimal dalam pergaulan di tengah masyarakat.

Jadi Negara ataupun pemerintah tak perlu bersusah payah mengusung ‘rekonsiliasi” dengan upaya mulia meminta maaf kepada kepada “korban” ,seperti yang pernah dilakukan oleh Gus Dur almarhum ketika ia menjabat selaku presiden, atau langkah-langkah perdata lainnya. Melainkan cukup dengan langkah solusi hukum seperti apa yang pernah dijanjikan presiden Jokowi dalam kampanye Pilpres 2014 y.l., bahwa Negara atau pemerintah wajib menyelesaikan perkara pelanggaran HAM berat dari peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965. Agar supaya peristiwa yang penuh mala petaka penzaliman dan kekejaman yang amat mengenaskan diantara sesama bangsa kita sendiri itu, tak akan terulang lagi dalam sejarah……


1 Februari 2016
***

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Ketua LPSK: Penyelesaian Kasus HAM Seperti Jalan Tak Berujung

Phobia Kiri; Warisan Abadi Propaganda Orde Baru

Related posts
Your comment?
Leave a Reply