YPKP 65 Cabang Cilacap Dikukuhkan

484 Viewed Redaksi 0 respond
DILANTIK: Pelantikan Pengurus YPKP 65 Cabang Cilacap (24/12) ditandai dengan penyerahan SK Pengukuhan oleh Ketua YPKP 65 Pusat kepada 7 orang pengurus setempat [Foto: Humas YPKP'65]
DILANTIK: Pelantikan Pengurus YPKP 65 Cabang Cilacap (24/12) ditandai dengan penyerahan SK Pengukuhan oleh Ketua YPKP 65 Pusat kepada 7 orang pengurus setempat [Foto: Humas YPKP'65]

CILACAP – Sekitar 60 korban dan penyintas Tragedi 65 di wilayah Cilacap dan sekitarnya menggelar pertemuan, Sabtu (24/12) di Kroya. Pertemuan yang mendapat perhatian petugas keamanan, polisi dan tentara; juga dihadiri oleh beberapa perwakilan korban dari Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen. Agenda ini juga sekaligus dimaksudkan sebagai pengukuhan Pengurus YPKP 65 Cabang Cilacap.

Tujuh pengurus yang dikukuhkan adalah Suwarti Karsum (Ketua I), Soediarto (Ketua II), Suryono (Sekretaris I), Sampurno (Sekretaris II), Hadi Suwarso (Bendahara I), Hadi Susanto (Bendahara II). Sedangkan Slamet Susilo Wardoyo diposisikan sebagai Penasihat. Dalam waktu dekat juga akan diikuti dengan pengangkatan Koordinator tiap kecamatan yang ada, menyusul pengangkatan Kusiman sebagai Koordinator Cilacap Timur (Binangun).

Suwarti Karsum (83) adalah seorang ibu eks pengajar Sekolah Rakyat (1954-1965) yang harus menanggung beban berat paska suaminya (Ketua SBKA Cilacap, Alm_Red) dijebloskan penjara rejim Orba Soeharto dan dibuang ke Nusakambangan; tanpa proses dan putusan pengadilan. Dalam sambutan paska pengukuhannya, ibu dari 4 anak ini berpesan kepada kolekte jajarannya untuk selalu menjaga kesehatan.

“Menjaga kesehatan itu utama, kita sudah tua tetapi harus tetap sehat”, tegasnya.

 

Korban Orba Soeharto

SOEARA KITA: Koran "Soeara Kita" yang diterbitkan YPKP 65 nampak diminati para korban di daerah. Nampak beberapa yang hadir serius menyimak Edisi 153 - Tahun Ke XVI - Desember 2016 - Januari 2017 [Foto: Humas YPKP 65]

SOEARA KITA: Koran “Soeara Kita” yang diterbitkan YPKP 65 nampak diminati para korban di daerah. Nampak beberapa yang hadir serius menyimak Edisi 153 – Tahun Ke XVI – Desember 2016 – Januari 2017 [Foto: Humas YPKP 65]

Pertemuan yang dibuka dengan eksplorasi pengalaman korban Tragedi 65 ini juga mendapat perhatian pihak keamanan, baik sipil maupun militer termasuk polisi setempat; berjalan tanpa gangguan pihak luar. Ketua YPKP 65 Pusat, Bedjo Untung, juga hadir disertai relawan departemen organisasi, Sudarno Marto; eks PNS yang juga pernah dibuang 14 tahun di Pulau Buru.

Sebagaimana biasanya, pertemuan seperti ini juga menjadi ajang silaturahmi korban lintas daerah dan menjadi ruang saling tukar informasi antar sesama korban kejahatan HAM berat. Perihal status sebagai korban kejahatan HAM berat ini telah dibuktikan berdasarkan hasil penyelidikan Komnas HAM, termasuk phsyco-test lembaga forensik dalam investigasi mendalamnya.

Hampir tiap korban yang dipersilahkan bicara dalam pertemuan ini selalu mengeksplor pengalaman pahitnya selama menjadi Tapol 65 yang tidak otomatis berakhir penderitaannya setelah dibebaskan dari penjara dengan keterangan tak terbukti bersalah. Beberapa Eks Tapol 65 bahkan diculik dan dibunuh setelah bebas dari tahanan Orba pimpinan Soeharto.  Selebihnya para Eks Tapol masih mendapatkan perlakuan diskriminatif dan stigma bahkan hingga hari ini.

 

Perjuangan Masih Panjang

Di sela sesi sambutannya, Bedjo Untung memaparkan dengan lebih tegas perihal hasil-hasil penelitian kelembagaan YPKP 65 yang diwarisinya dari rintisan mendiang ibu Sulami dkk. Mantan aktivis IPPI yang ditangkap militer melalui Operasi Kalong di Jakarta dan disiksa rejim Orba ini, secara spesifik berharap agar YPKP Cabang Cilacap yang diketuai ibu Suwarti Karsum ini mewarisi semangat para perintis perjuangan HAM yang konsisten hingga akhir hayatnya.

Secara khusus Bedjo Untung juga berterimakasih dan menyampaikan himbauannya kepada petugas keamanan yang berkenan hadir di lokasi, agar berani jujur untuk menilai realitas sejarah yang selama ini telah dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan Orba. Menurut penelitian sejarah, rejim Orba ini lah yang sejatinya melakukan makar secara indirect melalui “kudeta merangkak” untuk menggulingkan Soekarno pada masa itu.

“Perjuangan kita masih panjang karena upaya luhur rekonsiliasi nasional juga telah nyata-nyata diganjal oleh kekuatan politik sisa Orba”, jelasnya. Pada kesempatan ini ia juga menyampaikan hasil-hasil dari lawatannya ke beberapa negara Eropa. Terutama paska menyampaikan presentasi dalam sebuah konferensi internasional yang digelar Goethe University di kota Frankfurt, Jerman. [hum]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Basuki Kartowardoyo, tengah memaparkan pengalamannya di Kantor Komnas HAM (17/4/16) Jakarta. [Foto: Humas YPKP’65]

Surat | Kemana Kami Mencari Keadilan..?

kbr_dkn-ham

Komnas HAM Pertanyakan Rencana Pemerintah Bentuk DKN

Related posts
Your comment?
Leave a Reply