Nestapa dalam penjara dan keheningan cinta mantan Anggota Cakrabirawa

73 Viewed Redaksi 0 respond
Ishak mantan Anggota Cakrabirawa. ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz
Ishak mantan Anggota Cakrabirawa. ©2017 Merdeka.com/Abdul Aziz
Jumat, 6 Oktober 2017 09:08 | Reporter : Abdul Aziz

Selama 12 tahun meringkuk di balik jeruji besi, hidup Ishak adalah ihwal penderitaan tak tertanggungkan. Bukan ketidakberdayaan sebagai korban politik yang membuat hati Ishak miris, melainkan perlakuan dalam bui yang ia dapat selayaknya binatang, mulai dari makan memunguti biji-biji jagung yang disebar di lantai sampai berebutan minum dari ember menggunakan dahan pepaya.

Mendekam di dalam bui tanpa pengadilan, Ishak berkata singkat dalam bahasa Jawa Banyumasan bahwa ‘pangkat lunga, bojo minggat, bondo mawut’ (pangkat pergi, istri minggat, harta berantakan).

Perubahan jalan nasib yang dialami Ishak, bermula pada 30 September 1965. Hari itu, ia semestinya mengawal Presiden Soekarno ke Bogor. Tapi Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, Letnan Kolonel Untung, tiba-tiba memerintah agar ia ke Lubang Buaya. Terlarang menolak perintah, Ishak baru sadar kemudian bahwa jalan hidupnya akan berubah total.

“Saya hanya dengar selentingan kabar, beberapa jenderal dijemput untuk ketemu presiden,” kata Ishak saat ditemui Merdeka.com di kediamannya, Rabu (4/10).

Dini hari di Lubang Buaya, Ishak mengingat kawasan itu dipenuhi tentara. Saat itu, Ishak hanya duduk di kursi pengemudi kendaraan jip mengamati keadaan yang tak sepenuhnya ia mengerti. Dalam hati, sebenarnya Ishak ingin segera pulang ke kediamannya. Tahun 1965, ia baru saja menikah dan istrinya tengah hamil muda.

Ishak yang kini berusia 81 tahun menyebut 30 September sampai 1 Oktober 1965 merupakan hari petaka. Sebagai prajurit ia seperti anak ayam tanpa induk, kehilangan komando justru di tengah situasi yang serba tak menentu.

Pada 2 Oktober, Ishak dijemput tentara di Istana Merdeka lantas dijebloskan ke penjara Cipinang sebelum dipindah ke penjara Salemba. Saat itu, Ishak pun belum sempat bertemu istrinya.

Kelak 12 tahun kemudian, dia akan mendapat kenyataan pahit bahwa istrinya telah menikah dengan orang lain. Sedang anaknya yang telah beranjak remaja tak mengenalinya. Anaknya justru takut pada bapaknya.

“Saya jadi tahu beginilah nasib orang yang kalah,” kata Ishak.

Tahun 1965, Ishak terhitung 4 tahun menjadi anggota Resimen Cakrabirawa pasukan elit pengamanan presiden. Riwayat hidupnya sebagai prajurit, Ishak juga pernah ikut bertempur di Sumatera menghajar pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Berpangkat akhir Sersan Satu di usia 29 tahun, Ishak diberhentikan tak hormat dan menjalani nasib sebagai tahanan politik. Baru pada tahun 1977, ia bebas dari penjara dan tak memiliki apapun. Ishak pun memutuskan pulang ke tempat kelahirannya di Kabupaten Purbalingga. Ternyata, nestapa hidup Ishak pun belum berubah.

Sebagian keluarganya tak bisa menerimanya karena menganggapnya tersangkut dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Stigma sebagai orang yang mesti dijauhi juga ia terima dari sebagian masyarakat.

Di Purbalingga, Ishak memang sempat menjalin hubungan rumah tangga. Tapi sang istri lantas jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia.

Baru pada tahun 1983, Ishak lantas bertemu dengan Sri Sumarni yang berjarak 18 tahun lebih muda darinya. Perempuan inilah yang kini terus mendampinginya di masa tuanya.

Sejak pertama kali bertemu dikenalkan kerabatnya pada 1987, Ishak langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sumarni pun tak mempersoalkan masa silam Ishak dan menerima dia apa adanya.

Sumarni bercerita pertama kali mengenal Ishak tak menutup-nutupi masa silamnya sebagai bekas pasukan Cakrabirawa dan lantas menjadi tahanan Politik.

Sumarni melihat tidak berpikir lelaki yang dicintainya terlibat G 30 S, tapi hanya seorang prajurit yang waktu itu menjalankan perintah. Ia tidak mempersoalkan, karena semakin mengenal Ishak, ia tahu dia laki-laki yang bertanggung jawab.

“Bapak saya juga tentara. Bapak saya mengerti Pak Ishak tidak salah. Bapak saya hanya ngomong kalau mau melakoni silakan,” kata Sumarni pada Merdeka.com saat ditemui di kediamannya.

Sosok Ishak sendiri, di mata Sumarni merupakan orang yang disiplin. Ishak juga dinilai jujur dan terbuka soal apa saja dengan keluarga. Ishak juga kerap bersikap romantis, dan tak segan memuji-muji istrinya ketika mereka meluangkan waktu berduaan.

“Pak Ishak sangat mengagumi Soekarno. Dia mengoleksi buku-buku Soekarno,” katanya.

Kini keduanya hidup bahagia di Kabupaten Purbalingga dan dikaruniai dua anak. Ishak masih saja tampak bugar, tegas dan ikut mengurus masjid yang tak jauh dari kediamannya.

Nestapa dalam penjara adalah bagian hidup yang tak bisa seratus persen ia lupakan. Luka-luka fisik yang ia terima masih membekas di kepala sebagaimana Ishak sesekali bercerita pada Sumarni istrinya.

Hidup Ishak dan Sumarni pada akhirnya adalah keheningan cinta dua orang lanjut usia dengan riwayat masa silam yang keras. Cinta keduanya mencontohkan supaya kekurangan dan kelebihan mesti disyukuri lantas dimaknai sebagai modal utama eksistensi cinta, saling bersetia untuk saling melengkapi menuju kesempurnaan hidup.

Sumber: Merdeka.Com
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Gerwani menunjukkan dukungan mereka untuk masuknya Papua sebagai bagian dari Republik Indonesia. FOTO/Istimewa

Aksi Gerwani dan Serikat-Serikat Perempuan Lainnya

Sertu Ishak Bahar, eks Cakrabirawa yang dipenjara tanpa pengadilan. Foto oleh Irma Muflikhah/Rappler

Kesaksian mantan anggota Cakrabirawa tentang G30S

Related posts
Your comment?
Leave a Reply