Dokumen Rahasia AS Momentum Ungkap Kebenaran Peristiwa1965

82 Viewed Redaksi 0 respond
MI/MOHAMAD IRFAN
MI/MOHAMAD IRFAN
Jum’at, 20 October 2017 17:58 WIB | Penulis: Christian Dior Simbolon

DEKLASIFIKASI dokumen-dokumen rahasia milik sejumlah lembaga Amerika Serikat (AS) mesti dijadikan momentum mengungkap tabir gelap yang menyelimuti Tragedi 1965. Menurut Direktur Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid, pemerintah bisa menjadikan dokumen-dokumen tersebut sebagai bukti tambahan untuk membuka kembali penyelidikan atas Tragedi 1965.

“Pembukaan dokumen sangat penting untuk menambah bahan informasi bagi pemerintah Indonesia dan KomnasHAM dakal mengumpulkan fakta peristiwa 65-66. Arsip laporan Kedutaan AS ke Kemenlu berupa kabel dan telegram. Yang penting penggambaran bagaimana pembunuhan itu terjadi, siapa saja yang terlibat, bagaimana TNI terlibat, dan bagaimana pemerintah AS terlibat,” ujar Usman dalam konferensi pers di Kantor Amnesty Internasional Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin.

Seperti diberitakan, sejumlah dokumen kabel diplomatik AS soal Tragedi 1965 kembali dibuka ke publik tiga lembaga di AS, yakni National Security Archive (NSA), National Declassification Center (NDC), dan National Archives and Records Administration (NARA).

Setidaknya ada 39 dokumen setebal 30 ribu halaman yang diungkap ketiga lembaga itu. Dokumen-dokumen itu merupakan catatan Kedutaan Besar AS untuk Indonesia sejak 1964 hingga 1968. Isinya antara lain memaparkan seputar ketegangan antara militer dengan PKI serta catatan mengenai pembantaian massal pasca-G30-S/PKI.

Lebih jauh, Usman mengatakan, pemerintah bisa menyandingkan dokumen milik AS tersebut dengan dokumen terkait Tragedi 1965 yang dimiliki Indonesia, termasuk yang dimiliki TNI. Terlebih, beragam usaha yang dilakukan pemerintah dalam menuntaskan kasus dugaan pelanggaran HAM berat pada Tragedi 1965 belum juga membuahkan hasil.

“Usaha terakhir dorong rekonsiliasi melalui Simposium Nasional April 2016, kemudian ditindaklanjuti dgn pencarian kuburan massal dan kesaksian berkenaan peristiwa kejahatan masa itu dan penyelidikan oleh KomnasHAM. Laporan sudah diserahkan ke Kejagung tapi belum juga ada hasilnya. Ini momentum yang baik untuk membuka ulang penyelidikan,” ujarnya.

Peneliti International People’s Tribunal (IPT) 1965 Sri Lestari Wahyuningrum mengatakan, dokumen-dokumen tersebut sebenarnya bukan barang baru bagi IPT. Dalam IPT di Den Haag pada 10 hingga 13 November 2015 lalu, Bradley Simpson, profesor Universitas Connecticut yang mendirikan Proyek Dokumentasi Indonesia/Timor Timur, mengungkapkan sebagian isi dokumen-dokumen tersebut.

“Dia (dokumen-dokumen tersebut) menjadi bagian yang sangat dipertimbangkan hakim ketika memutuskan keterlibatan negara asing dalam genosida pasca G30S/PKI. Berdasarkan bukti-bukti yang dihadirkan diketahui AS, Inggris dan Australia terlibat dengan peran masing-masing,” ujar Ayu, sapaan akrab Wahyuningrum.

Menurut Ayu, pengungkapan kebenaran terkait Tragedi 1965 penting untuk memberikan rasa keadilan bagi para korban sekaligus menghentikan persekusi terhadap kelompok-kelompok yang dituding memiliki afiliasi dengan PKI dan komunisme tanpa bukti yang jelas.

“Sampai sekarang persekusi itu masih terjadi. Karena itu, pemerintah harus ambil langkah nyata bagian dari penyelesaian berkaadilan, baik lewat jalur yudisial maupun nonyudisial,” imbuhnya.

Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Feri Kusuma mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Komisi Kepresidenan guna mengungkap fakta-fakta terkait Tragedi 1965. Apalagi, rencana pembentukan komisi khusus untuk menangani kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu merupakan salah satu janji Jokowi yang tertuang dalam Nawacita.

“Tidak bisa diberikan ke Kemenko Polhukam. Harus langsung di bawah Presiden. Kita lihat sekarang ini ada kelompok-kelompok yang menghambat upaya korban mendiskusikan peristiwa yang dialami. Ini bahaya kalau pemerintah tidak ambil tindakan konkret. Ini akan terus jadi persoalan dan jadi beban sosial politik bangsa. Orang-orang akan terus mempertanyakan ini,” tuturnya. (OL-7)

Sumber: Media Indonesia
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Tentara menangkap tahanan PKI dalam Operasi Trisula. 
Foto: Vannessa Hearman dari Museum Brawijaya.

Laporan Pembasmian Komunis dalam Dokumen Rahasia AS

Ilham Aidit, putra pimpinan PKI, DN Aidit. FOTO: Istimewa

Dokumen AS Soal Tragedi 65, Ilham Aidit: Saya Gembira

Related posts
Your comment?
Leave a Reply