Eko Wardoyo | 16 Januari 1930 – 25 Februari 2017 | Rest in Peace

357 Viewed Redaksi 0 respond
Rest in Peace | Eko Wardoyo | Selapanjang, Neglasari, Tangerang
Rest in Peace | Eko Wardoyo | Selapanjang, Neglasari, Tangerang

Mantan aktivis Pemuda Rakyat koordinator Ragunan yang pada masa Soekarno mendapat pelatihan dari instruktur Djojo Trisno di Lubang Buaya sebagai relawan untuk Konfrontasi Malaysia, adalah korban kebiadaban rejim militeristik Orba Soeharto. Ia dijebloskan ke Rutan Salemba Blok N dan juga mendekami sel RTC (Rumah Tahanan Chusus) di Tangerang antara tahun 1972-1979.

Sabtu, 25 Februari 2017, beliau wafat dalam usia 87 tahun; meninggalkan seorang istri dan lima anak, dua diantaranya tinggal di Cambodia. Jenasah alm Eko Wardoyo dimakamkan di TPU Marfati Selapanjang, Tangerang; pada hari Minggu 26 Februari 2017 jam 16.00 wib setelah disemayamkan di rumah duka.

Selain sebagai mantan aktivis Pemuda Rakyat, pria kelahiran Klaten Jawa Tengah 16 Januari 1930, juga penyokong BTI (Barisan Tani Nasional) pada masanya, seorang petani yang dikenal ulet disiplin dan pekerja keras hingga usia senjanya. Peternak kerbau yang suka menggembalakan ternaknya. Tak segan ia merawat dan memandikan piaraannya ini dengan penuh kasih dan kesalehan.

Eko Wardoyo

Eko Wardoyo, 16-01-1930 – 25 Februari 2017

Semasa melakoni sebagai Tapol Rutan Salemba, pria ini ditempatkan satu sel dengan Kol. A. Latief (alm) yang telah mendahului wafat 6 April 2005 silam. Kolega satu sel lainnya adalah Letkol (Pnb) Heru Atmodjo (alm) yang juga telah meninggal pada 29 Januari 2011. Karena kondisi sel yang jauh dari prasyarat kesehatan dan kelayakan, alm Kol. A. Latief kawan satu selnya menderita luka membusuk di bagian kakinya. Luka kaki itu dipenuhi belatung; namun Eko Wardoyo dengan telaten merawat derita yang menyiksa kawan satu selnya.

Dia sendiri pernah luka oleh tembakan peluru tentara di bagian punggung yang tembus ke dada, pada masa penangkapan semen-mena oleh militer Orba. Beruntung peluru tak mengenai jantungnya. Namun belang luka tembak itu membekas sampai jenasahnya dikebumikan. Pasca tertembak peluru di masa itu dia sempat dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, dokter yang menanganinya mengakui daya tahan tubuh dan semangat pasien satu ini memang luarbiasa.

Masa pelarian dalam menghindari militer yang memburunya pun tak menyurutkan etos kerja Eko Wardoyo. Dia sempat menjadi pedagang buah di Pasar Senen bahkan hingga Tanjung Priok; sebelum akhirnya dia tertangkap dalam operasi pembersihan militer dan dijebloskan dalam sel tahanan Brigif Pasar Minggu. Fase pemeriksaan dan interogasi menjadi hal yang tak pernah bisa dilupakan oleh tapol manapun yang ditangkap militer Orba; tak terkecuali Eko Wardoyo. Cambukan ekor ikan pari, bentuk siksaan dan kekerasan phisik-psikis lainnya dia lawan dengan bungkam. Tak mau menjawab tuduhan-tuduhan militer yang memang tak masuk akal seputar makar 1965..

[hum]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
2/5 - 1
You need login to vote.
Filed in
George Junus Aditjondro [ist]

In Memoriam: George Junus Aditjondro | Yab Sarpote

Suar Suroso

Suar Suroso | 16 Mei 1930 – 27 April 2017 | RiP

Related posts
Your comment?
Leave a Reply