Kisah Mogok-Duduk dan Mogok-Total Tahun 1956

20 Viewed Redaksi 0 respond
Andreas Turiman
Andreas Turiman
  • Di Pabrik Gula Tersanabaru Cirebon
Oleh: Andreas Turiman

 

Mulai Tertarik dengan Gerakan Buruh

Di awal tahun 1952,  ketika itu saya berumur 18 tahun (lahir 23 Mei 1934) saya mulai tertarik dan berkenalan dengan gerakan buruh yaitu dimulai sebagai Staf Pimpinan Ranting SBPI (Serikat Buruh Percetakan Indonesia) di Percetakan Al-Kuran di kota Cirebon.

Di akhir tahun 1952, saya ditugasi sebagai asisten Bp Djokohardjono. Beliau adalah Ketua SOBSI Cabang Cirebon, yang juga merangkap sebagai pimpinan Komisaris Daerah III SOBSI. Dari mulai saat itulah saya lebih banyak aktif di lingkungan SOBSI Cabang Cirebon yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, kecuali Kabupaten Indramayu karena sudah ada Cabang SOBSI sendiri.

Sejak awal 1954, ketika itu saya berumur 20 tahun, saya ditugasi oleh Pimpinan SOBSI Cabang Cirebon dan oleh DPP SBG (Dewan Pimpinan Pusat Serikat Buruh Gula) yang berkedudukan di Surabaya untuk memimpin SBG Cabang Tersanabaru sebagai Ketua. Adapun Pimpinan Cabang SBG Tersanabaru selengkapnya ketika itu adalah sebagai berikut:

  1. Turiman sebagai Ketua
  2. Kasmid sebagai Wakil Ketua
  3. Was’an sebagai Sekretaris Organisasi
  4. Sunito sebagai Sekretaris Sosial Ekonomi
  5. Darim sebagai Sekretaris Keuangan

Karena selain sebagai Ketua SBG Cabang Tersanabaru, saya juga anggota Pimpinan Cabang SOBSI Cirebon. Maka pada waktu itu saya ditugasi oleh Pimpinan SOBSI Cabang Cirebon untuk membacakan Resolusi Rapat Umum Rakyat Cirebon di alun-alun Kejaksan Cirebon untuk disampaikan kepada Walikota saat itu yakni Mustafa Suryadi.

Adapun isi tuntutan dalam resolusi itu adalah: Pendemokrasian DPRDS (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara) Cirebon. Singkat kata, aksi damai demonstrasi besar-besaran rakyat Cirebon ini selain aman dan kondusif juga berhasil baik sekali.

Pada tahun 1954, tanggal dan bulan saya lupa, saya ditugasi oleh DPP SBG Surabaya untuk menjadi anggota delegasi buruh gula untuk menghadiri Kongres Kebudayaan Nasional bertempat di Taman Sriwedari Solo. Kehadiran delegasi SBG ini dianggap penting, karena ini menunjukkan bahwa SBG juga ikut berjuang di bidang pelestarian kebudayaan nasional, selain memperjuangkan perbaikan nasib kaum buruh di bidang sosial ekonomi.

 

Mogok Duduk sebelum Mogok Total (Sitdown Strike Pre Total Strike)

Karena sudah bekali-kali terjadi perundingan antara SBC dengan Administrateur (majikan) untuk merundingkan tuntutan kaum buruh dan majikan selalu menolak untuk melaksanakan tuntutan kaum buruh, maka di sekitar tahun 1956 SBG Tersanabaru terpaksa melancarkan Mogok Duduk (Sitdown Strike) selama 3 jam.

Mogok Duduk artinya ialah: Seluruh kaum buruh masuk kerja seperti biasa, tetapi disaat jam yang kita tentukan untuk memulai Mogok-Duduk yaitu mulai jam 09.00 sampai jam 11.00, seluruh kaum buruh mulai duduk di tempatnya masing-masing. Bagian Kantor, mereka duduk di kursi tempat kerjanya masing-masing. Bagian mesin di pabrik, mereka duduk di dekat mesin tanggung jawabnya masing-masing. Di bagian bengkel mobil, baik sopir pribadi (majikan) maupun truk-truk pengangkutan barang-barang pabrik, berhenti di tempat sesuai dengan jam mogok yang harus dijalankan, kecuali Bus-Sekolah yang antar jemput anak-anak sekolah diijinkan tidak ikut mogok duduk.

Di tengah-tengah berlangsungnya mogok-duduk yang baru berjalan kira-kira 1 jam, tiba-tiba saya sebagai ketua pimpinan aksi mogok dipanggil pimpinan KKD (Komando Keamanan Daerah) Kabupaten Cirebon yang saat itu dijabat oleh Bupati Mustafa Suryadi (tahun 1957 sebagai Walikota Cirebon).

Di saat saya dan Was’an bertemu Bupati Mustafa Suryadi sebagai Komando Keamanan Daerah di kantornya, tampak dia heran dan bertanya:

“Ya, selamat pagi. Saya kenal wajah saudara, tetapi saya lupa nama saudara; siapa ya..?”, tanyanya.

“Ya, pak. Nama saya Turiman, yang dulu pernah menemui bapak di depan kantor balaikota saat saya menyerahkan resolusi rapat umum yang ketika itu bapak menjabat walikota Cirebon”.

“Ya, ya.. Sekarang saya ingat. Tetapi mengapa sekarang kok ada di SBG Tersanabaru?”

Singkat kata, setelah pembahasan yang cukup hangat tentang aksi mogok-duduk, bupati Mustafa Suryadi sebagai Komandan KKD Cirebon meminta kepada saya untuk menghadap Suryadi sebagai Komandan KKD Cirebon meminta kepada saya untuk menghentikan aksinya dan kembali berunding dengan administrateur Belanda yang ketika itu dijabat Den Hartog.

Permintaan Bupati Komandan KKD itu saya tolak, kemudian terjadi perdebatan dan karena beberapa usulan saya diterima Bupati, yaitu instruksinya itu diputuskan secara tertulis, antara lain:

  1. Diperintahkan supaya aksi mogok duduk segera dihentikan dan  segera bekerja kembali seperti biasa;
  2. Memerintahkan kepada SBG Tersanabaru dan administrateur Pabrik Gula Tersanabaru untuk kembali berunding menyelesaikan tuntutan kaum buruh;
  3. Memerintahkan administrateur Pabrik Gula Tersanabaru untuk sedapat mungkin melaksanakan tuntutan kaum buruh yang paling masuk akal.
Gambar: PG Tersanabaru, Cirebon [Quelle Foto: Albert Gieseler]

Gambar: PG Tersanabaru, Cirebon [Quelle Foto: Albert Gieseler]

Pemogokan Total Buruh Gula Tersanabaru Tahun 1956 

Sebagai kelanjutan dari aksi Mogok-Duduk yang terjadi di saat pabrik gula sedang mempersiapkan musim giling dan menindak-lanjuti perundingan-perundingan sesuai instruksi Bupati/ Komandan KKD Cirebon. Tetapi karena berbagai dalih majikan Belanda itu tidak mau melaksanakan tuntutan buruh, maka terpaksa sekali SBG Cabang Tersanabaru mempersiapkan diri untuk melakukan Mogok-Total di musim giling.

Rencana pemogokan itu secara resmi diberitahukan kepada admintrateur pabrik, memberitahukan kepada Kantor Penyuluh Perburuhan Cirebon, kemudian memberitahukan juga kepada Kantor P4D (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah) Jawa Barat di Bandung. Dan juga kepada P4 Pusat (Panitian Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat) di Jakarta. Demikian lah prosedur hukumnya yang harus ditempuh jika Serikat Buruh akan melakukan aksi pemogokan,agar tidak melanggar Undang-Undang Perburuhan yang berlaku saat itu.

Pemogokan total itu akan dilakukan pada saat musim giling, waktunya sekitar bulan Juni atau Juli 1956. Seluruh komponen pabrik mulai dari bagian mesin, bagian administrasi kantor, bagian bengkel mobil dan lain-lain bekerja selama 24 jam secara aplusan. Untuk buruh tebang yang kerjanya menebang tebu dari pagi sampai sore sesuai perintah Kemitir melalui mandornya di setiap afdelingnya. Juga masinis lori kereta pengangkut tebu termasuk truk-truk yang hilir-mudik dari kebun penebangan ke bagian penggilingan di dalam pabrik, adalah pemandangan yang khas di musim giling pabrik gula.

Demikian lah kesibukan pabrik gula di musim giling di daerah Karesidenan Cirebon, termasuk di Tersanabaru maupun di Jawa Tengah serta di Jawa Timur yang ada pabrik gulanya.

Karena itu para majikan Belanda sangat gelisah jika pada musim giling di pabriknya terjadi aksi dari buruhnya. Apalagi jika terjadi pemogokan sebagai salah satu peristiwa yang tidak diinginkan oleh majikan Belanda.

Sebenarnya untuk mencegah timbulnya pemogokan tidak lah sulit. Yakni dengan cara mau mengabulkan dan mau melaksanakan tuntutan buruh yang disepakati kedua pihak, pasti aksi pemogokan tak akan terjadi.

Akan tetapi pemogokan itu benar-benar terjadi di PG Tersanabaru. Dan pemogokan itu adalah pemogokan total dan berlangsung selama 3 hari. Betapa luas implikasi pemogokan ini, terbukti, mulai Camat dan Kapolsek Babakan, wedana dan Kapolwil Ciledug, Bupati Komandan KKD Kabupaten Cirebon hingga ke pemerintah pusat (Menteri Perburuhan RI) di Jakarta. Di pihak lain, majikan Belanda pasti sekuat tenaga berusaha untuk mencegah terjadinya pemogokan tersebut. Sikap demikian sah-sah saja bagi majikan Belanda.

Benar juga. Begitu pemogokan baru berjalan setengah hari, SBG Tersanabaru menerima telegram dari Menteri Perburuhan RI di Jakarta yang saat itu dijabat Sabilal Rasad dari PNI. Isi pokok telegramnya:

“Mengundang pimpinan SBG Tersanabaru atau pimpinan aksi untuk segera menemui Menteri Perburuhan RI di Jakarta. Aksi mogok agar dihentikan sementara, sambil menunggu hasil perundingan dengan Menteri Perburuhan di Jakarta”.

Karena adanya telegram Menteri tersebut maka SBG Tersanabaru pada hari itu juga menggelar rapat pleno dengan segenap Seksi Komando Aksi. Rapat memutuskan mengirim delegasi SBG Tersanabaru terdiri dari:

  • Ketua Delegasi: Turiman
  • Anggota: Sunito
  • Anggota: Carim.

Sore hari itu juga delegasi berangkat ke Jakarta, sampai di stasiun KA Gambir jam 21.30 malam.untuk mencari penginapan saat itu agak sulit setelah Hotel D.. Inn di Jalan Gajahmada menolak dengan alasan “Kamar telah penuh semua”. Cerita mencari penginapan ini agak memprihatinkan..

Setelah delegasi bertemu Menteri Perburuhan RI di Jakarta, pertemuan berlangsung sangat singkat, sekitar 15 menit. Kemudian Menteri meminta agar delegasi menemui Siregar di kantor P4 Pusat di Jln Veteran Jakarta.

Perundingan di kantor P4 Pusat berlangsung cukup panas dan alot serta memakan waktu lebih dari 2 jam lamanya. Perdebatannya berkisar pada argumentasi keberpihakan antara kepentingan kaum buruh dan kepentingan pihak lain. Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan (P4) semestinya berpihak kepada kaum buruh Indonesia. Tetapi di dalam praktek kenyataannya tidak lah demikian.

Lalu apa saja kah tuntutan buruh Tersanabaru, sampai mati-matian dibela dengan pemogokan total selama 3 hari?

Berikut inilah tuntutannya:

  1. Untuk Buruh tetap ada kenaikan Upah antara 5% – 10%;
  2. Di Kantor:
  • Bagian personalia
  • Bagian administrasi
  • Bagian Laboratorium
  1. Di dalam Pabrik:
  • Bagian mesin giling tebu
  • Bagian prosesing air tebu
  • Bagian puteran
  • Bagian packing
  • Bagian air tetes gula.
  1. Perbengkelan:
  • Bagian mobil pribadi
  • Bagian bus anak sekolah
  • Bagian truck
  • Bagian lori pengangkut tebu
  • Bagian perawatan, dll.
  1. Bagian Pergudangan:

– stock opname produksi gula

– keluar masuknya gula , dll.

87420: Menarik lori tebu di areal Pabrik Gula Tersanabaru, Babakan, Cirebon [ist]

87420: Menarik lori tebu di areal Pabrik Gula Tersanabaru, Babakan, Cirebon [ist]

  1. Kenaikan upah untuk buruh musiman (sistem kontrak) per musim giling:
  • Bagian buruh tebang
  • Bagian timbangan tebu
  • Bagian jolangan (untuk tanam tebu)
  • Bagian buruh tanam dan perawatannya (pemupukan, kebanyakan buruh wanita)

Dari sekian banyak bagian dalam PG Tersanabaru yang semuanya harus diperjuangkan kenaikan upahnya, tentu sangat tak mudah untuk merumuskannya. Contohnya, ketika dalam perundingan dengan P4 Pusat terjadi perdebatan tentang tuntutan cuti haid dan cuti hamil bagi buruh wanita.

Bagi buruh wanita yang berstatus buruh tetap dan bekerja di kantoran sebagai juru ketik, pembukuan atau public-relation, atau lainnya selama ini telah berhasil diperjuangkan hak-haknya itu. Tetapi bagi kaum buruh lainnya yang bekerja di kebun sawah menanam tebu, belum berhasil diperjuangkan mendapatkan hak untuk cuti haid atau cuti hamil. Sebabnya karena mereka berstatus sebagai buruh musiman yang terikat sistem kontrak yang berlaku hanya selama musim tanam tebu, sehingga agak sulit diperjuangakan untuk mendapatkan cuti haid dan cuti hamil dengan tetap menerima bayaran penuh. Karenanya perdebatannya kita usulkan untuk ditunda dulu. 

Tentang tuntutan kenaikan upah di pabrik gula pada umumnya ada berbagai macam upah yang berlaku, misalnya:

  • Upah/ gaji bulanan tetap, juga mendapat tunjangan (beras dan gula)
  • Upah/ gaji harian tetap (juga mendapat tunjangan beras dan gula)
  • Upah/ gaji harian lepas, tidak mendapat tunjangan apa pun
  • Upah kwintalan 9 untuk buruh tebang tebu, misal per kuintal Rp…
  • Upah borongan dll, sesuai keadaan setempat.

Tentang peningkatan golongan buruh ahli mesin, di PG Tersanabaru ada beberapa buruh bagian mesin yang sangat berpengalaman di bidang permesinan pabrik gula. Orang-orang ini tidak lulus SD atau SMP, tetapi pengalamandan pengetahuannya tentang mesin tidak kalah dengan golongan para staf yang disebut “Tweede Machinist” (Masinis Dua) yang kebanyakan lulusanSTM/ SMK jurusan mesin atau yang Insinyur sekalipun

Di PG Tersanabaru ada beberapa orang yang demikian itu, salah satunya dipanggil dengan sebutan “babe”. Orang tua ini hanya lulusan SD,meski demikian para “Tweede Machinist” tadi amat segan dan hormat kepadanya karena pengetahuan dan pengalamannya di bidang permesinan. Oleh karenanya SBG Tersanabaru memperjuangkan nasib kaum buruh yang disebut “babe-babe” ini dinaikkan statusnya menjadi “Derde Machinist” (Masinis Tiga), karena jika dinaikkan menjadi “Tweede Machinist” sangat tidak mungkin karena tak memiliki ijazah STM/SMK mesin, apalagi ijazah Insinyur mesin.

Demikian lah perjuangan SBG untuk para buruh “ahli mesin” tersebut masih belum berhasil sepenuhnya karena hanya bisa memenangkan kenaikan upahnya, karena terhalang peraturan yang tak ada golongan “Derde Machinist” dalam personalia PG Tersanabaru.

Maka setelah melalui perundingan yang cukup menguras tenaga dan pikiran karena disertai perdebatan yang sengit untuk mencari “titik temu” dari dua kepentingan yang berbeda antara kaum buruh gula dengan kepentingan majikan Belanda. Tentunya Siregar (P4P) sebagai wakil pemerintah harus pandai-pandai menempatkan dirinya di tengah kedua kepentingan tersebut. Yang pada akhirnya dicapai kesepakatan dengan istilah “win-win solution”, sehingga untuk sementara dapat diterima baik oleh delegasi SBG maupun pihak majikan Belanda. Sedang keputusan tertulisnya akan dikeluarkan P4 Pusat dalam bentuk Keputusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P).

Sebagai konsekuensinya maka Ketua Delegasi SBG segera menelpon Wakil Ketua SBG Tersanabaru yang juga sebagai wakil pimpinan aksi, yang pada intinya memberitahukan bahwa:

  1. Aksi mogok hari ke 2 dan ke 3 nya tak perlu dilanjutkan;
  2. Persiapkan Rapat Umum Buruh yang tidak sedang kerja aplusan;
  3. Delegasi SBG pulang naik KA sampai stasiun Babakan Tersanabaru jam 10.00 langsung menuju Rapat Umum Kaum Buruh untuk melaporkan hasil-hasil perundingan di jakarta.

Suasana Rapat Umum Buruh Gula Tersanabaru kali ini sangat berbeda karena setiap ada Rapat Umum Buruh Gula anggota SBG Tersanabaru yang diselenggarakan bukan pada musim giling saja suasananya sangat meriah. Apalagi kali itu diselenggarakan di musim giling dimana konsentrasi buruh baik buruh tetap, buruh tebang, buruh tanam, semuanya berkumpul di sekitar alun-alun kantor SBG Tersanabaru.

Faktor yang menyebabkan gegap gempitanya Rapat Umum Buruh Gula Tersanabaru kali ini:

  1. Kebetulan diselenggarakan di tengah musim giling, sehingga memudahkan mobilisasi massa buruh untuk hadir di rapat Umum;
  2. Aksi Mogok Total yang sedang bergejolak akan dilanjutkan untuk hari yang kedua dan hari ketiganya atau tidak;
  3. Kaum buruh ingin tahu: SBG menang atau kalah dalam perundingan di P4P Pusat di Jakarta.

Dan begitu Ketua delegasi SBG tampil di atas podium (mendadak dibuat dari jajaran 2 meja) kalimat pertama yang terlontar adalah:

“Bapak-Bapak SBG kita menang..!”.

Maka secara spontan massa buruh yang diperkirakan sejumlah 3.000-4.000 lebih itu membalas dengan gegap-gempita

“Hidup SBG.. SBG Menang..!”, berulang-uulang.

Massa buruh berhenti meneriakkan yel-yel mereka ketika Ketua delegasi yang juga Ketua SBG Tersanabaru menyela:

“Bapak-bapak kaum buruh gula Tersanabaru yang saya cintai, kata-kata SBG menang itu adalah sebuah kesimpulan dari salah seorang Pimpinan Pusat SBG Surabaya yang ketemu saya dan anggota delegasi kita di Jakarta kemarin. Setelah beliau mendengarkan hasil-hasil perundingan di P4 Pusat yang menghasilkan sekitar 70% dari seluruh tuntutan SBG Tersanabaru kali ini, maka beliau menyimpulkan bahwa SBG Tersanabaru menang”.

“Jadi, kata-kata SBG menang itu bukan dari saya, melainkan dari pimpinan SBG Pusat. Lantas, setelah kita menang 70%, apakah tindakan kita selanjutnya..?”.

Terdengar jawaban serentak dari massa buruh

“Berjuang terus… Teruskan Mogok Total”, demikian jawaban meggemuruh.

“Tidakk..!”, kata Ketua delegasi itu.

“Yaah, kenapa, kunaon?”,  respons massa.

“Kalau ingin tahu kenapa, begini penjelasannya: Mogok Total 3 hari, kita stop sampai di perundingan P4 Pusat di Jakarta kemarin. Karena kita sudah menang 70% dari tuntutan kita!”.

Ingat, kita atau SBG punya semboyan: “Kecil Hasil, bukan?”.

“Yaa, ingaat..”, jawab massa buruh.

“Maka itu mogok total kita hentikan. Dan tindakan kita selanjutnya adalah konsolidasi organisasi SBG secara internal. Selain konsolidasi organisasi, tugas kita yang terdekat waktu ini adalah mensukseskan musim giling sekarang ini sampai selesai. Bagaimana, sanggup..?”, tanya Ketua SBG.

“Sangguup..!”, terdengar jawaban massa buruh gula diiringi tepuk tangan menggemuruh.

Sambil mengucapkan terimakasih, Ketua SBG Tersanabaru itu menutup Rapat Umum dengan pekikan: “Merdeka!..Merdeka..Merdeka..!”. 

Berakhir lah Rapat Umum Buruh Gula yang amat berkesan itu..

  • Solo, Mei 2017
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Andreas Turiman

Aksi Ambil-Alih Pabrik Gula Tersana Baru Tahun 1957

Bahkan di Palestina yang Mayoritas Umat Muslim ada Partai Komunis. Partai Komunis di Palestina gencar melawan Zionisme [Sumber: Kaskus]

Sejarah Komunisme di Tanah Arab dan Timur Tengah

Related posts
Your comment?
Leave a Reply