Ditangkap Karena Dekat Soekarno, Di Pulau Buru Dekat Pramoedya

106 Viewed Redaksi 0 respond
Oie Hiem Hwie
Oie Hiem Hwie
28 September 2017

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah mengubah jalan hidup seorang Oie Hiem Hwie, bekerja sebagai wartawan surat kabar “Trompet Masjarakat” pada zaman orde lama membuatnya dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), namanya masuk daftar orang untuk dihabisi pada masa tersebut. Surat kabar Trompet Masjarakat tempatnya bekerja dicurigai sebagai media PKI hanya karena dekat dengan Presiden Soekarno.

Hwie akhirnya ditangkap, ia dipindah dari penjara ke penjara, mulai dari Jawa Timur sampai ke Jawa Tengah, sampai  berlayar ke Pulau Buru, salah satu penjara khusus bagi mereka yang menjadi tahanan politik pada tahun 1965, di sana ia bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer, serta mendapatkan titipan naskah asli tetralogi Pulau Buru saat hendak dibebaskan. PERSPEKTIF mencoba merangkum kisah eks tahanan politik 1965 tersebut.

***

Oie Hiem Hwie, merupakan eks tahanan politik 1965 (eks tapol 65). Hwie, sapaan akrabnya, lahir di Malang tepatnya di Klojen Kidul, 23 November 1935. Kepada awak PERSPEKTIF Hwie membagi kisahnya.

Meraba-raba perjalanan hidup laki-laki 82 tahun tersebut tentu bukan perkara mudah, banyak cerita menarik yang tersuguhkan. Sewaktu-waktu kami perlu mencerna lebih lama perkataan dari Hwie karena suaranya kadang-kadang terdengar samar. Penyebabnya adalah ia pernah mengidap penyakit vertigo yang berpengaruh kepada cara bicaranya.

Ia memulai kisahnya saat pertama kali menjajaki karir sebagai wartawan, memang sejak lama Hwie bercita-cita ingin menjadi wartawan, untuk menunaikan hal tersebut, ia meninggalkan Malang lalu pergi ke Jogjakarta, untuk sekolah wartawan di sana, setelah lulus, Hwie melamar kerja di berbagai surat kabar, dan ia pun diterima bekerja di Trompet Masjarakat.

Hwie mungkin tak menyangka, menjadi wartawan telah mengantarkannya ke berbagai simpul-simpul kehidupan yang ia pun tak tahu seperti apa akhirnya. Kejutan itu tiba-tiba saja datang, ia berkesempatan untuk mewawancarai Presiden Soekarno di Istana Negara pada tahun 1963. Kondisi politik pada tahun itu cukup memanas, Presiden Soekarno menarik Indonesia dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyusul masuknya Malaysia sebagai anggota, sebab-musababnya adalah Soekarno menentang pendirian negara Malaysia.

Tentu bagi seorang Hwie, mewawancarai tokoh kharismatik seperti Soekarno menjadi tantangan tersendiri. “Pertama, salam. Ini salaman seperti kesetrum. Bung Karno itu sakti. Ketiak tuh kesetrum,” kenangnya. Perjumpaannya pertama kali dengan Presiden Soekarno saat itu tentu sangat berbekas bagi Hwie, ia terkesan dengan ketelitian dari Soekarno yang tiba-tiba saja merapikan pakaiannya, serta menghadiahkan jam tangan untuk Hwie.

“Dikasih Bung Karno. Jamnya keemas-emasan,” jelasnya sambil menunjuk kotak kaca tempat ia masih menyimpan jam tersebut.

Tersimpan – Arloji keemasan pemberian Soekarno dan selembar foto saat Hwie mewawancarai Sang Proklamator tersimpan di etalase kaca

Kesan itulah yang membuat Hwie memampang pigura raksasa potret Soekarno di pintu masuk Perpustakaan miliknya, potret tersebut adalah hasil jepretan Hwie sendiri saat memotret Soekarno di serambi belakang, Istana Negara. Ia punya banyak jepretan foto Soekarno, namun hanya tersisa satu karena yang lainnya dirampas. “Kok jadi itu (potret Soekarno) besar lagi. Untung ndak dirampas,” kenangnya.

Selain itu, ia punya beberapa keping piringan besar yang berisi pidato Soekarno, yang direkamnya sendiri. Namun, karirnya sebagai wartawan surat kabar Trompet Masjarakat tak terbilang panjang. Gejolak politik peristiwa gerakan 30 September telah mengubah kehidupan Hwie 180 derajat. “Nah, terus, Bung Karno jatuh, ditahan, sakit, ditaruh  di Wisma Yasoo, ya, saya ditangkep,”

Surat Kabar Trompet Masjarakat tempatnya bekerja dibredel karena dianggap media partisan Soekarno, underbouw PKI. “Nah, Trompet itu bukan media PKI. Bukan. Tapi progresif revolusioner. Jaman dulu,” sanggahnya.

Kantor Trompet Masjarakat kemudian digeledah, redaktur-redakturnya ditangkap, arsip-arsip koran, buku, dirampas lalu dibakar. Adik Hwie mencoba menyelamatkan beberapa sisa arsip yang ada dengan menaruhnya di atas plafon. Kepada awak PERSPEKTIF Hwie kemudian menunjukkan selembar koran Trompet Masjarakat yang telah usang dan berwarna kecoklatan.

Sisa-sisa dari buku dan koran itulah yang kemudian disimpan dan dijadikan koleksi di Perpustakaan Medayu Agung miliknya. Nama Hwie masuk dalam daftar orang untuk dihabisi pada peristiwa 30 September 1965, namun, tentara pada saat itu tidak bisa membuktikan bahwa Hwie adalah anggota PKI. Sedangkan yang sudah terbukti bahwa dia adalah anggota PKI langsung dihabisi.

“Karena bukan PKI, saya dibawa ke Malang lagi. Saya kira bebas kan. Tidak. Ditaruh lagi di penjara Lowokwaru. Penjara paling besar di Malang, bikinan Belanda,” terangnya getir.

Hwie terus berpindah dari penjara ke penjara, sehabis dari penjara Lowokwaru, ia dijebloskan ke penjara Kalisosok, Surabaya. Penjara tersebut juga pernah ditempati oleh Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto saat ditahan oleh kolonial Belanda, beliau merupakan guru dari Soekarno.

“Pindah ke Koblen. Koblen dulu ada. Sekarang sudah ndak ada. Koblen dihancurkan. Koblen itu penjaranya tentara. Terus puter-puter, pindah-pindah, kan. Balik lagi, pindah ada lima tahun,” terangnya.

Selama dipenjara Hwie hanya makan sekepal nasi dengan lauk sepotong tempe. Waktu kemudian membawa Hwie berlayar menuju penjara Nusakambangan, yang terletak di Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap.

Pada tahun 1970, bersamaan dengan meninggalnya Soekarno, putra sang fajar, Hwie berangkat menuju pulau Buru, yang terletak di Ambon, Maluku, dengan berlayar menggunakan kapal Tobelo.

Pulau Buru tentu menjadi mimpi buruk bagi para tahanan politik 1965 saat itu, “Di sana (Pulau Buru) pulaunya sama Bali lebih besar, tapi masih kosong. Masih hutan. Suruh babat alas. Ada pake gergajian, ada pake nyangkul. Terus, berdiri barak,” ucapnya.

Para tahanan politik 1965 saat itu untuk memenuhi kebutuhan perut mereka dengan cara bertani, jika pertanian gagal maka mereka pun tak makan. “Kalo yang berhasil singkong ya makan singkong, telo ya makan telo,” terangnya.

“Tentara dapet makan. Kita harus kasih makanan. Jadi kita kerja, selain ngisi perut sendiri, juga ngisi perutnya mereka,” sambungnya.

Menjadi tapol di Pulau Buru membuat Hwie menemukan kejutan selanjutnya dalam hidupnya, ia mungkin tak menyangka akan bertemu dengan seorang penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer. Ia tak begitu menceritakan detil seperti apa ia sampai dapat bertemu dengan Pram, namun yang paling ia ingat adalah nasehat Pram kepada dirinya sewaktu di Pulau Buru.

“Kamu Hwie, jangan mikir pacar, jangan pikirin ibu. Jangan pikir siapa-siapa. Kalau kamu pikir-pikir, bisa kendat (bunuh diri). Anggep saya dosenmu. Kamu murid saya, belajarlah,” ucapnya menirukan nasehat Pram saat itu.

Pram selama di Pulau Buru berada di barak tahanan tersendiri, ia terisolir dari tahanan lainnya. Hwie kemudian membolongi dinding tersebut untuk bisa melihat Pram, karena posisi barak Pram letaknya tepat di depan ladang garapannya. Pram terisolir karena ia dianggap tokoh pada waktu itu.

Ketokohan Pram yang kemudian membuat pemerintah orde baru saat itu harus menyerah dan memberikan keistimewaan untuk Pram, yakni boleh menulis, lalu disediakanlah mesin tik. Karena ada desakan dari luar negeri kalau Pram harus menulis.

“Pram itu Anggotannya Dewan Pengarang Internasional. Protes. Ndak nulis, ndak boleh. Nah, terus, Suharto ngijino nulis. Saat itu, Suharto butuh ini (uang) karena duite entekdijukuki koncone, teman-temane, negoro akeh, nah, terpaksa butuh bantuan luar negeri. Mau bantu, akhirnya Pram disuruh nulis,” ungkapnya semangat.

“Pram nulis buku Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Yang pertama Arok Dedes. Semua didasarkan ilmu. Berdasarkan sejarah dan berdasarkan politik. Saya baca kan. Wah, disuruh baca saya. Terus, lek supaya lupa, saya dapat batok kelapa. Tak ukir,” kenang Hwie selama menjadi saksi kehidupan Pram.

Berbagai lembaga kemanusiaan Internasional kemudian mendesak pemerintah orde baru untuk membebaskan para tahanan politik 1965, diantaranya adalah Palang Merah Internasional dan Amnesty Internasional.

Tahun 1978, Hwie bebas, setelah bertahun-tahun ditahan di Pulau Buru. Tak mudah bagi Hwie tentunya setelah menghabiskan usia produktifnya dari penjara ke penjara. Kejutan tentunya datang lagi menghampiri Hwie. Ia yang lebih dulu bebas dari Pulau Buru, dititipkan Pram naskah asli tetralogi Pulau Buru. Karena Pram bebas setahunnya lagi, tepatnya 1979.

“Nah, itu. Waktu saya mau pulang, pamit sama Pram,” terangnya

“Iya. Saya titip naskah,” ucapnya meniru perkataan Pram.

Abadi – Naskah asli Tetralogi Pulau Buru oleh Pramoedya Ananta Toer tergores abadi pada lembaran karung semen. (Zilvi)

Tak simpen. Terus tak bawa. Untung saya ndak digeledah. Kalo digeledah, ketemu, mungkin saya dibunuh. Gak dipukuli, ak dibunuh, saya gak diperiksa. Justru lainnya diperiksa. Sampe naik kapal,” jelasnya.

Setelah mengetahui Pram bebas, Hwie ke Jakarta untuk mengembalikan naskah asli tersebut. Namun, ia tak menyangka bahwa Pram memercayai naskah asli tersebut disimpan oleh Hwie, sedangkan Pram cukup memegang fotokopinya saja.

Potret – Beberapa foto kebersamaan Hwie dengan Pramoedya baik saat masih di Buru maupun saat berkunjung ke kediaman Pram (Zilvi)

Walaupun telah bebas dari penjara-penjara yang telah ia cap selama 15 tahun tak menjamin kehidupan Hwie terhindar dari nelangsa. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya diberi tanda “ET” yang merupakan singkatan dari Eks Tapol.

“Eks-Tapol. Gak iso kerjo. Kalo kerja wah “ET” ndak ada, ndak bisa. Ke bank mau pinjem, “ET”, dia omong gak ada duit. Mosok bank ndak ada duit,” kenangnya.

Cap – Tulisan “ET” (Eks Tahanan Politik) ada di Kartu Tanda Penduduk Oie Hiem Hwie (Zilvi)

Karena statusnya sebagai eks tapol, Hwie merasakan nestapa dalam hidupnya, namun ia tak bergeming. Untuk mendapatkan makanan ia ikut bersama adiknya. Pernah suatu ketika ia mendapatkan kue kering yang dibungkus plastik dari temannya. Semua itu dialami oleh Hwie karena tanda ET pada KTPnya membuat ia luntang-lantung tak menentu.

Garis hidup akhirnya sedikit berpihak kepda laki-laki 82 tahun tersebut. Pada tahun 1992 berdirilah Perpustakaan Medayu Agung Rungkut, Hwie tentu sangat jeli dalam mengurus serta merawat barang-barang yang mempunyai nilai sejarah tinggi di Perpustakaan tersebut, sehingga ia mendapatkan suntikan dana dari para donatur. Ia menceritakan, pernah suatu hari peneliti dari Australia ingin membeli semua koleksi perpustakaan milik Hwie dengan mengiming-imingi uang 1 Miliyar Rupiah.

“Kalau saya almarhum, dipanggil Tuhan, harus nyisakan sesuatu untuk generasi muda ini, berbentuk perpustakaan,” pungkasnya. (lta/tuf/zil)

Sumber: Perspektif.Com

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
geotimes_scoobydoo

Gila PKI: Indonesia Membutuhkan Scooby Doo

Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom

Rekonsiliasi 1965, Belajar dari Gus Dur

Related posts
Your comment?
Leave a Reply