Sekilas Tempo Doeloe [4]

142 Viewed Redaksi 0 respond
andeas_DN

Membebaskan Aidit dan Ruslan Widjajasastra

Oleh: Andreas JW

Entah ini karena faktor kebetulan atau memang sudah diperhitungkan, hanya selang beberapa jam setelah eksekusi terhadap 11 tapol tersebut dilaksanakan; pagi-pagi buta, tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan aksi militernya, menyerbu Kota Solo. Betul saja seperti perkiraan kita semula, tentara Belanda dengan mudah berhasil menduduki Kota Solo. Mobil Brigade dari Polri serta pasukan TNI bergerak mundur, meninggalkan kota. Begitu pula pemerintahan Karesidenan Surakarta dan Gubernur Militer Gatot Subroto turut menyingkir ke daerah Sukoharjo. Waktu itu, Gatot Subroto sedang sakit serta stress berat. Dalam kondisi seperti itu, praktis dia sudah tidak berfungsi lagi.

Sementara itu sisa-sisa laskar kiri yang menyingkir ke daerah Sukoharjo, menyusul meletusnya Peristiwa Madiun, telah berhasil menghimpun kembali kekuatannya. Mereka bertahan dan membangun kekuatan di daerah Sukoharjo bersama pasukan TNI pimpinan Mayor Digdo. Ketika itu kalau kita berniat balas dendam terhadap Gatot Subroto dkk., dengan mudah dapat kita lakukan. Kekuatan gabungan laskar kiri dan pasukan pimpinan Mayor Digdo cukup kuat kalau hanya untuk menghadapi pasukan Gatot Subroto. Namun kita tidak melakukannya. Kita tetap konsisten memegang teguh garis Resolusi Jalan Baru, yang mengharuskan kita menggalang front anti-imperialis untuk melancarkan perang kemerdekaan.

Meski begitu beberapa utusan laskar kiri tetap menemui Gatot Subroto, untuk merundingkan posisi masing-masing pasukan, sekaligus mengajak Gatot Subroto beserta pemerintah daerah dan golongan lainnya bersatu melawan Belanda. Dalam pertemuan itu Gatot Subroto setuju dengan usulan kita; bersatu melawan Belanda. Lalu selaku Gubernur Militer, Gatot Subroto mengeluarkan keputusan mengangkat kembali Major Digdo sebagai Komandan Batalyon Divisi IV Panembahan Senopati. Rayonnya meliputi Wonogiri dan Sukoharjo. Sedang markasnya berada di Eromoko (?).

Sejak Belanda menduduki Kota Solo, ada perkembangan yang menguntungkan bagi kita, yaitu tergalangnya front antara TNI dengan golongan kiri. Dengan begitu tidak ada lagi gerakan-gerakan antikomunis; kecuali yang dilakukan beberapa sisa-sisa laskar Hizbullah.

Tapi umumnya Laskar Hizbullah lebih banyak diam dan takut. Mereka tahu diri posisinya minoritas. Sedangkan dengan Tentara Pelajar (TP), hubungan kita tetap baik. Termasuk pentolannya, Achmadi, kalau ketemu saya sikapnya baik-baik saja. Saya dan Achmadi tetap berteman akrab, tidak ada permusuhan. Apalagi kita berdua dulu berteman, ketika sekolah di HIS Mangkubumen.

Akan halnya nasib Suhadi, D.N. Aidit, dan Ruslan Widjajasastra; ketiganya tertangkap aparat, kemudian dijebloskan di sebuah tahanan darurat di Timuran, Solo. Belakangan baru saya ketahui jalan peristiwanya; ketiganya tertangkap di daerah Baki, di pinggiran Kota Solo. Tapi beruntung, identitasnya tidak diketahui. Ketiganya kemudian dibawa ke kantor kecamatan setempat untuk diperiksa lebih lanjut. Tapi gawat, ternyata Camat Baki tahu jatidiri ketiga orang ini. Tapi entah kenapa, Camat itu tidak membuka identitas ketiganya; ia malah berusaha menutupi, dan mengatakan kepada para pemeriksa bahwa ketiga orang ini hanya pedagang biasa. Sehingga pemeriksaan tidak dilanjutkan.

Mengapa Camat Baki merahasiakan identitas ketiga tokoh PKI tersebut? Rupanya ada ceritanya. Dalam suatu peristiwa yang terjadi jauh sebelumnya, Camat Baki pernah ditangkap oleh orang-orang Pesindo.

Tidak jelas apa masalahnya. Tapi yang pasti camat itu merasa dirinya telah diselamatkan oleh salah seorang dari ketiga tokoh PKI ini. Rupanya, karena merasa berhutang budi, camat itu kemudian berusaha menyelamatkan nyawa ketiga tokoh PKI ini. Padahal kalau diketahui identitasnya, tentu ceritanya akan lain. Paling tidak nyawa ketiganya bisa terancam.

Mengetahui Suhadi, D.N. Aidit, Ruslan Widjajasastra, serta Baiman ditahan di rumah tahanan darurat di Timuran, Solo; kita lalu berusaha untuk membebaskannya. Sekitar bulan November 1948, Aidit, Ruslan, dan Baiman, berhasil meloloskan diri dari tahanan lewat gorong-gorong. Sedangkan Suhadi memilih untuk tetap berada di dalam tahanan.

Menurut perhitungan Suhadi, keamanan dirinya lebih “terjamin” di dalam penjara daripada di luar, karena ia dikenal luas masyarakat Solo. Jadi ia berpendapat untuk sementara lebih baik tetap tinggal di penjara, sambil melihat perkembangan lebih lanjut.

Sementara Aidit, Ruslan, dan Baiman, setelah berhasil meloloskan diri, lantas kita amankan dengan cara berpindah-pindah tempat persembunyian, dari satu rumah ke rumah yang lain. Aidit, Ruslan, dan Baiman, masing-masing kita sembunyikan secara terpisah, dalam beberapa tempat. Salah satunya di rumah milik seorang keturunan Tionghoa, yang terletak persis di sudut perempatan Warung Pelem. Semua ini dilakukan oleh jaringan yang pernah kita bentuk untuk membebaskan Amir Sjarifuddin dkk.

Beda dengan Bung Aidit, ia bisa lebih leluasa bergerak, karena tidak begitu dikenal oleh masyarakat Solo. Meski begitu, demi keamanan, identitas Bung Aidit tetap saya samarkan. Bung Aidit menyamar sebagai pembantu tukang jahit di Tailor Oryza, milik orang padang, yang membuka usahanya di sebelah timur perempatan Nonongan.

Selama bersembunyi di Solo, segala keperluan hidup dan keselamatan Bung Aidit sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita (SC Surakarta). Dari sinilah hubungan pribadi saya dengan Bung Aidit semakin dekat. Bahkan saya mengenal betul bagaimana perangai dan wataknya, hingga kebiasaan atau selera makannya. Misalnya, ia gemar sekali makan dengan kecap. Apalagi bila makan kupat tahu dengan kecap manis khas Solo, ia pasti tanduk (minta tambah).

Setahu saya, Bung Aidit berasal dari Belitung. Selain cerdas, ia juga seorang agitator. Tapi dalam beberapa hal, kadang ia sektaris. Wataknya juga keras, kaku, dan cenderung kasar. Pernah beberapa kali Bung Aidit berdebat sengit dengan saya. Bahkan sampai menumpahkan kemarahannya. Meskipun setelah marah-marah, ia selalu meminta maaf.

Pernah suatu ketika terjadi sedikit ketegangan dengan saya. Masalahnya sangat sepele. Aidit menilai saya kurang cermat menyelesaikan pekerjaan. Ia lalu marah-marah disertai emosi berlebihan. Saya pun tidak mau terima begitu saja. Ketegangan pun terjadi. Kalau sudah begini, hanya Pak Suhadi yang dapat melerai. Meski begitu, saya tahu betul, Bung Aidit sesungguhnya sayang pada saya. Karena ia merasa berhutang budi. Terutama waktu proses membangun kembali PKI, Aidit sepenuhnya bersandar pada kekuatan SC Surakarta. Itulah yang tidak pernah bisa dilupakan olehnya.

Bung Aidit waktu itu belum menikah. Penampilannya mirip keturunan Tionghoa. Rambutnya dipotong cepak (pendek). Tidak ketinggalan, kemana-mana ia selalu membawa meteran, karena ia menyamar sebagai tukang jahit. Sehari-hari, bila bepergian Bung Aidit selalu mengendarai sepeda. Dalam masa-masa persembunyiannya di Solo, pernah terjadi peristiwa yang lucu sekaligus menegangkan yang dialami Aidit.

Suatu hari dalam perjalanannya menuju pos partai, tepatnya di sekitar perempatan Pasar Legi, tanpa diduga ada razia yang dilakukan tentara Belanda. Bung Aidit tidak menyangka dan tidak dapat mengelak. Ia dalam posisi terjebak. Ia berusaha tetap tenang, sekalipun jantungnya berdebar-debar keras. Ketika tiba gilirannya digeledah, seketika ia menemukan akal. Ia segera menunjukkan gulungan meteran, sambil berkata:

“We, Cina kleermaker, Meneer….”

Melihat potongan Bung Aidit yang mirip orang Tionghoa, serdadu Belanda yang menggeledah tidak menaruh curiga.

“Oh, goed… goed,” sambil mempersilahkan Bung Aidit pergi.

“Kamsya,… kamsya,… Meneer,” kata Bung Aidit.

Sepeda segera dikayuh Aidit dengan kencang menuju pos partai di Sondakan, untuk menemui saya.

Sampai di pos partai, masih terlihat nafas Bung Aidit terengah-engah. Ia segera menceritakan kejadian yang baru dialaminya.

“Aduuh, Sis, saya hampir saja tertangkap Belanda.”

Saya bertanya spontan, “Lho, di mana?” 

Bung Aidit kemudian cerita panjang lebar. Selesai bercerita, kami berdua pun tertawa terpingkal-pingkal.

Begitulah romantika revolusi. Kejadian yang berbahaya, menegangkan, sekaligus menggelikan, sesungguhnya mengandung makna pelajaran. Dan ini dapat terjadi di tengah-tengah praktek konkret revolusi bersenjata.

Peristiwa tersebut juga memberi hikmah bahwa jika revolusi sudah pecah secara obyektif, maka kita harus bersikap obyektif pula. Kita harus memihak dan menyatukan diri dengan kekuatan-kekuatan yang berkepentingan dengan revolusi. Sebagai suatu hal- ikhwal, revolusi juga mempunyai hukum-hukumnya, aspek-aspeknya, dan kontradiksi-kontradiksinya. Kita tidak boleh bersikap main-main serta gegabah dengan revolusi. Kita juga harus bersikap obyektif, tabah, tenang, dan penuh perhitungan. Tidak lari (tinggal gelanggang, colong playu) dari revolusi. Ini semua harus kita pelajari.

 

Aidit Pergi ke Jakarta

Selama berada dalam persembunyian di Solo, Aidit sempat membuat berbagai siaran, antara lain siaran Front Nasional Anti-imperialis. Tapi lama-kelamaan kita mulai berpikir, jika terlalu lama dalam persembunyian, selain ruang geraknya jadi sangat terbatas, tentu kemungkinan tertangkap juga lebih besar. Ditambah lagi, peran Bung Aidit begitu penting buat partai. Sehingga, tidak baik bagi dia kalau harus terus-menerus dalam persembunyian. Berdasarkan pertimbangan ini, lalu kita ajukan kepada Aidit, langkah apa kiranya yang harus dilakukan.

Setelah mempertimbangkan dari berbagai kemungkinan, Bung Aidit mengambil keputusan hendak pergi ke Jakarta. Tapi, jelas ini tidak mudah dilakukan. Karena, untuk bisa sampai di Jakarta, harus menembus daerah-daerah pendudukan yang dikuasai tentara Belanda. Sudah pasti ini penuh risiko. Tapi kita tidak punya pilihan. Lalu, bagaimana caranya?

Kebetulan saya punya kenalan baik seorang Tionghoa, bernama Tan Tse-Thai. Dia seorang pedagang berbagai bahan kebutuhan pokok. Hampir setiap minggu, dia mengirim barang-barang dagangan dari Solo untuk dijual di Semarang. Begitu pula sebaliknya, dia membeli barang-barang kebutuhan pokok di Semarang untuk kemudian dijual di Solo. Dalam setiap perjalanan mengirim barang dagangan, mereka berkonvoi menggunakan beberapa truk. Waktu itu situasi keamanan masih sangat rawan. Oleh karena itu mereka perlu dikawal sejumlah KNIL. Kita perhitungkan, dengan menyelundupkan Bung Aidit di dalam rombongan ini, kecil kemungkinan akan dicurigai tentara Belanda. Apalagi Bung Aidit wajahnya mirip orang Tionghoa.

Setelah kita susun rencana secara matang, saya kemudian menghubungi Tan Tse-Thai dkk., untuk mengatur rencana kepergian Bung Aidit ke Semarang. Rencananya, Bung Aidit akan diselundupkan bersama konvoi truk pengangkut barang-barang dagangan, yang berangkat dari pinggir Jalan Slamet Riyadi (d/h Jalan Purwosari), tepatnya di sebelah timur perempatan Nonongan.

Sebelum hari keberangkatan tiba, Suhadi, Aidit, dan saya, sempat melakukan pertemuan. Dalam pertemuan terakhir itu Aidit mengatakan, nanti sesampainya di Jakarta, ia selekasnya akan mengirim surat kepada kawan-kawan di Solo. Dikatakan Aidit, surat yang dikirimnya sekaligus merupakan bukti bahwa ia sudah sampai di Jakarta dengan selamat.

Akhirnya, hari keberangkatan Bung Aidit pun tiba. Saya mengantar Bung Aidit, dari tempat persembunyiannya menuju perempatan Nonongan. Tidak seberapa jauh dari tempat pemberangkatan, kita lalu berpisah. Bung Aidit berjalan sendiri menyeberangi jalan. Sedangkan saya berdiri di seberang jalan, mengawasi dari kejauhan, sampai konvoi truk yang mengangkut barang dagangan berangkat menuju Semarang, bersama Bung Aidit.

Benar saja, beberapa minggu setelah kepergiannya, datang surat dari Bung Aidit. Ini artinya, Bung Aidit sudah sampai di Jakarta dengan selamat. Tentu saja kita semua lega, karena misi meloloskan Aidit ke Jakarta berhasil dengan baik.

Lain halnya dengan Ruslan Wijayasastra, ia tetap berada di Solo, bersama keluarganya. Bung Ruslan turut ambil bagian dalam konsolidasi partai, sembari mengurus kawan-kawan dari DPP Pesindo yang masih tertinggal di Solo. Markas DPP Pesindo berada di Gedung Hadiprojo, Singosaren, Solo. Kawan-kawan Pesindo yang ada di Solo antara lain Baiman alias Badak, Majid, Suz Murtijah, Suz Rusiati, Asmudji, dan Ibu Harmini (istri Ruslan Widjajasastra). Mereka kemudian masuk dalam formasi SC Surakarta.

Kader senior partai yang masih berada di Solo ialah Pak Alimin dan Bung Suhadi. Tapi karena keduanya cukup dikenal masyarakat Solo, maka posisinya sangat berbahaya. Keduanya lalu mengusulkan agar disusupkan keluar dari Solo. Kita pun setuju. Lantas diatur proses “penyelamatan” kedua kader senior ini ke daerah pedalaman Wonogiri, dalam pengamanan Batalyon Digdo.

Namun beberapa bulan kemudian, atas pertimbangan keamanan, tempat persembunyian Pak Alimin harus segera kita pindahkan ke Desa Tlatar, yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang. Sedangkan Bung Suhadi tetap tinggal dalam pengamanan Batalyon Digdo, sembari menjadi penasihat politik Mayor Digdo.

Akan halnya Bung Aidit, kemudian mengkonsolidasi partai di Jakarta, sekaligus berinteraksi ke Jawa Barat, dengan melaksanakan garis Resolusi Jalan Baru. Selama tinggal di Jakarta, ia berjumpa dengan M.H. Lukman. Lukman adalah anak dari Haji Mukhlas, seorang tokoh PKI Angkatan 1926, yang dikenal sebagai penganut garis keras. H. Mukhlas sempat dibuang ke Digul dan Tanah Merah. Setelah pecah Perang Dunia II, dia bersama kaum Digulis lainnya diungsikan ke Australia oleh Pemerintah Hindia Belanda. H. Mukhlas akhirnya wafat dalam pembuangan, dan dimakamkan di Melbourne. Menurut riwayatnya, Bung Lukman bersama ibu dan adiknya, Rolah, sempat menyusul ayahnya ke Digul. Namun menjelang pecah Perang Dunia II, mereka dipulangkan ke Tanah Air.

Pada sekitar akhir 1949/1950, Aidit dan Lukman, pergi ke Tiongkok untuk belajar. Kepergian Bung Aidit dan Bung Lukman ini, menimbulkan kontroversi hingga sekarang. Ada sementara orang yang meragukan kebenarannya. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa Bung Aidit tidak sampai ke Jakarta. Dari persembunyiannya di Solo, dia selanjutnya hanya berdiam diri di Semarang.

Namun saya lebih percaya bahwa Aidit dan Lukman memang pergi ke Tiongkok. Sebab, sewaktu saya melakukan perjalanan ke RRT, sebagai tamu CC PKT; perihal ini sempat saya tanyakan kepada anggota Deplu CC PKT, yang mendampingi saya selama kunjungan di Tiongkok. Anggota Deplu ini membenarkan bahwa Bung Aidit dan Bung Lukman pernah ke Tiongkok. Malah anggota Deplu ini memberi tambahan informasi bahwa Bung Aidit dan Bung Lukman sempat belajar di Kunming.

Permulaan tahun 1951, pada saat situasi Tanah Air sudah normal, saya jumpa kembali dengan Bung Aidit. Ini adalah perjumpaan pertama kalinya sejak kepergian Bung Aidit dari persembunyiannya di Solo. Ketika itu Bung Aidit dan Lukman punya urusan di Yogyakarta. Kemudian keduanya menyempatkan diri singgah di Solo. Seperti diketahui, bersama Bung Disman, Aidit dan Lukman duduk dalam Komisariat CC PKI Jakarta, berkedudukan di Jakarta. Adapun keperluan keduanya menjumpai saya dan Bung Suhadi, untuk membicarakan pembangunan partai. Baik Aidit maupun Lukman setuju dengan pendirian SC Surakarta bahwa Resolusi Jalan Baru adalah garis PKI sekarang. Lagi pula, pada saat itu di Surakarta sudah tidak ada lagi FDR. Secara alamiah, semuanya sudah bergabung dengan PKI, dibantu ormas seperti BTI, SOBSI, BBW, PPI, dan sebagainya. []

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
andreas-jw_tempodulu

Sekilas Tempo Doeloe [3]

MASS-GRAVES: Slamet, 73, penyintas Tragedi 65 Lampung Timur menunjukkan salah satu dari 8 lokasi kuburan massal korban Tragedi 65 di daerahnya (15/9). [Foto: Humas YPKP'65]

Lampung Timur: Temuan 8 Lokasi Kuburan Massal Korban Tragedi 65 [1]

Related posts
Your comment?
Leave a Reply