Antara “Lubang Kerbau” dan “Perang Sabil”

249 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi: Peristiwa Madiun 1948 [Photo-Credit: splicetoday.com]
Ilustrasi: Peristiwa Madiun 1948 [Photo-Credit: splicetoday.com]

Catatan “teror putih PM Hatta” Peristiwa Madiun 1948

  • Martin L

“..Hari itu Senin Pahing, 19 Desember 1948. Umur saya (waktu itu) 18 tahun. Jam 10 malam sekelompok tentara datang kesini. Menyuruh pak Bayan mengumpulkan warga. Katanya, mau menggali lubang buat menguburkan kerbau..”


[warga] Yang terkumpul kira-kira 20 orang. Sebagian disuruh membuat dan membawa obor. Yang lain membawa cangkul. Pertama-tama digali lubang di Ngaliyan sini. Belum selesai digali, diminta pindah. Katanya, terlalu dekat jalan raya. Lalu pindah ke Kepuh. Sempat digali di Kepuh. Disuruh pindah lagi. Alasannya terlalu gelap dan jauh. Pindah ke Karang. Sama juga, di Karang terlalu gelap dan jauh. Akhirnya kembali ke sini..

Tengah malamnya, kelompok tentara yang lain datang. Bawa rombongan bapak-bapak orang pemerintahan. Sebelas orang. Ada Bapak Amir, ada Bapak Maruto Darusman, Bapak Suripno. Ada lagi Bapak Den Mangku; orang Solo. Tukang gali disuruh cepat-cepat pergi sama tentara.

“Saya penasaran, kok tukang gali disuruh pergi? Saya sembunyi dibalik semak-semak, mengintip apa yang mau terjadi. Saya lihat Bapak Amir dan kawan-kawannya berbaris di pinggir lubang yang baru digali. Mereka menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan satu lagu perjuangan yang saya tidak tahu judulnya…

Di depan mereka tentara berbaris sambil mengangkat bedil. Begitu lagu kedua selesai (dinyanyikan_Red), tentara menembak Bapak Amir dan kawan-kawan. Mereka jatuh ke dalam lubang yang semula katanya mau dipakai buat menguburkan kerbau.”

Kesaksian di atas disampaikan oleh alm. Tukiran H.S kepada saya pada tanggal 17 April 2011. Beliau saksi mata atas peristiwa eksekusi mati terhadap 11 Pejuang Kemerdekaan RI di desa Ngaliyan Karanganyar; 71 tahun lalu. Kesebelas korban dituduh memimpin pemberontakan PKI di Madiun, 19 September 1948. Perintah eksekusi datangnya dari Perdana Menteri Mohammad Hatta, diteruskan kepada Gubernur Militer Wilayah Solo-Semarang-Pati-Madiun; Kolonel Gatot Subroto. Pelaksanaan di lapangan dipimpin oleh Letnan Klas I (CPM) Mulia Nasution.

Pada malam yang sama 40 tahanan terkait Peristiwa Madiun dibunuh di penjara Magelang. Mereka ditembak dari jarak dekat, mayat-mayat mereka dikumpulkan, dilempari dengan botol berisi bensin, lalu dibakar. Hujan lebat yang turun tidak lama kemudian membuat nyala api padam.

 

Politisasi “perang sabil” Agama  

Sumber “Aneta” tanggal 27 Desember 1948 menyebutkan, para tahanan ini tidak melakukan perbuatan yang merugikan RI, ditembak mati tanpa pernah diselidiki kesalahannya.

Para korban yang dibunuh beberapa jam sesudah dilancarkannya Agresi Militer II Belanda itu, adalah sebagian dari korban Teror Putih pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Hatta, yang bersekongkol dengan neo-imperialis Amerika Serikat dan imperialis Belanda untuk membasmi kaum anti imperialis Indonesia. Kepentingan ekonomi politik AS berada dibalik teror ini.

Koran Daily Worker yang diterbitkan di London pada tanggal 8 Desember 1948 menyebutkan, Hatta ibarat Tjiang Kai Shek yang menebarkan teror terhadap kaum anti imperialis. Koran ini menuding Hatta telah menebarkan perang agama; mempertentangkan agama Islam dengan filsafat materialisme untuk menebarkan kemarahan umat Islam terhadap PKI, memakai Menteri Agama KH Masjkur berpidato menyerukan umat Islam bersatu melakukan perang sabil melawan PKI, musuh Allah dan musuh agama Islam jang telah berkhianat terhadap Republik.

Hatta adalah pihak yang paling bertanggung-jawab atas jatuhnya korban dalam Peristiwa Madiun, baik di pihak PKI, maupun pendukung pemerintah. Hatta mengabaikan upaya penyelesaian damai atas aksi pelucutan senjata yang dilakukan oleh Brigade 29 terhadap pasukan gelap yang melakukan provokasi di Madiun pada dinihari 18 September 1948.

Usul Panglima Besar mengenai penyelesaian persoalan di Madiun secara hukum juga ditolak oleh Hatta. Laporan Domine F.K.N Harahap yang berada di Madiun antara tanggal 19-30 September 1948, yang menyatakan bahwa di Madiun tidak terjadi pemberontakan, juga masukan dari KSAU Marsekal Suryadarma supaya menghentikan operasi militer terhadap Madiun ditolak oleh Hatta.

Alasannya: ”Segala kuasa telah diserahkan kepada Angkatan Darat lantaran negara dinyatakan dalam keadaan darurat.”

***

Sumber-sumber:
Koran Daily Worker, 8 Desember 1948.
Aneta, 27 Desember 1948.
”Aidit Menggugat Peristiwa Madiun”, Jajasan Pembaruan, Tjetakan ke-IV, Oktober 1964.
Catatan Domine F.K.N. Harahap, 25 Oktober 1983.
Kesaksian Bapak S. Kardiman, 21 Maret 2011.
Kesaksian Bapak Tukiran HS, 17 April 2011.

 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Ilustrasi: Sketsa Mardadi Untung (ist)

Sejak Hari itu mereka dieksekusi “hilang” hingga hari ini

Mardadi Untung (81) kembali berkacamata, di masa pemulihan penglihatannya [Foto: Humas YPKP 65]

Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [3]

Related posts
Your comment?
Leave a Reply