Rest in Peace | Tan Swie Ling

270 Viewed Redaksi 0 respond
tan-swie-ling_rip

Tan Swie Ling

[Pekalongan, 12 September 1938 – Jakarta, 22 Januari 2019]

Tan Swie Ling. Lahir di Pekalongan, 12 September 1938, adalah seorang pegiat sosial dan HAM. Publik lebih mengenal kiprahnya sejak Reformasi 1998 dimana ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan trauma-healing masyarakat pasca terjadinya Tragedi Mei 1998 yang menuai kerusuhan rasial di seantero Jakarta.

Namun sejak semasa awal berkuasanya rezim Orde Baru pimpinan Soeharto, Tan adalah aktivis politik terkemuka yang sangat dibenci Orba. Dua hal yang membuat Tan tidak disukai Orba adalah: bahwa dia seorang dari kalangan Tionghoa dan ia adalah mantan sekretaris Sudisman si anggota Politbiro PKI sebelum tragedi Gestok 1965. Pada masa setelahnya, pemuda otodidak Tan Swie Ling jadi saksi yang sangat tegar dan pemberani dalam sidang Mahmilub terbuka yang menghukum mati Sudisman. (Tirto, 2016)

Pengembangan demokratisasi di Indonesia juga menjadi perhatian utama sang penulis buku “G30S 1965, Perang Dingin dan Kehancuran Nasionalime”. Tan pernah mengasuh dan menjadi pemimpin redaksi majalah Sinergi Indonesia; media yang berkomitmen memajukan kehidupan kebinekaan dan toleransi bangsa Indonesia. Semasa hidupnya ia juga aktif sebagai Ketua Umum Lembaga Kajian Sinergi Indonesia (LKSI).

Pada 1965, Tan Swie Ling adalah anggota sayap pemuda Baperki sebuah organisasi peranakan Tionghoa yang mendukung Soekarno. Ia juga tercatat sebagai alumni Ureca (Universitas Res-Publica) sebuah universitas yang didirikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) yang dibubarkan rejim Soeharto dan dalam era berikutnya Ureca berubah menjadi Universitas Trisakti Jakarta.

Indonesianis terkemuka Ben Anderson pernah mengkhawatirkan keselamatan dirinya, terutama saat ia menjadi saksi pemberani di muka oditur dan hakim pada sidang-sidang Mahmilub yang mengadili serta menghukum mati Sudisman. Dari keberaniannya bersaksi inilah terungkap bahwa banyak ketidaksesuaian antara fakta yang sesungguhnya dengan keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang ditandatangani tersangka.

Karena aktivitas politknya yang menonjol ini, Tan mendapat siksaan setelah ditangkap melalui Operasi Kalong dan dijebloskan ke penjara Orba di Tangerang. Semasa menjadi tapol yang menghuni Kamp Konsentrasi Kerja Paksa Tangerang, Tan Swie Ling ditempatkan di Areal II Cikokol. Tan ditugasi memiara dan menggembala kambing. Namun hasil ternak kambing-kambing piaraannya itu keseluruhannya diambil dan dikuasai oleh komandan kamp; Kapten CPM Sa’ud. Di kamp militer ini dia tak luput dari siksaan, sempat alami sakit paru-paru berat sehingga badannya kurus kering, menderita batuk berkepanjangan karena ketiadaan obat. Tan dipisahkan dari tapol-tapol lain dan diharuskan mendiami sel “KP” karena sakit paru-parunya.

Meski begitu, semangat juangnya tak pernah memudar hingga ia dibebaskan dari penjara pada 1979 dan kembali menjadi aktivis kesetaraan dan hak asasi manusia. Tan dikenal pendiam, tidak banyak bicara namun dalam hatinya bergolak perlawanan dan keteguhan. Semasa hidupnya di penjara, Tan diketahui gemar memainkan biola dan dikenal tapol lain sebagai penyanyi bagus bersuara bariton.

Tan Swie Ling wafat di rumahnya, Pamulang, dalam usia 81 tahun pada Selasa (22/1) pagi. Jenazahnya disemayamkan di RS Harapan Kita Jakarta. Kremasi dilakukan di Oasis Lestari, Krematorium Bitung, pada Jumat (25/1) untuk kemudian abu jenazahnya dilarungkan di perairan Teluk Jakarta.

 

TanSwieLing1

Rest in Peace

Rest in Power

 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
soemarsono_suryaanta

In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan

Photo-Credit: Bedjo Untung [ist]

Obituari: Trikoyo Ramidjo

Related posts
Your comment?
Leave a Reply