Utati Koesalah S Toer 11 Tahun Dipenjara Tanpa Diadili

57 Viewed Redaksi 0 respond
utati
Sabtu, 04 Mei 2019, 20:03 WIB – TS/M-1

PEREMPUAN kelahiran 1944 ini menjalani tahanan politik hingga 11 tahun lamanya. Ironisnya, Utati yang kala dijebloskan ke penjara masih berusia 22 tahun, tidak pernah menjalani persidangan.

Ditangkap aparat pada tahun 1966 atas tuduhan terkait dengan PKI pun dirasakan sangat membingungkan karena Utati hanya mengikuti kegiatan kesenian di organisasi Pemuda Rakyat.

Diceritakan Utati, kini berusia 75 tahun, pada masa itu ia mengajar di sebuah Sekolah Dasar (Sekolah Rakyat_Red) sembari bersekolah sore di sebuah sekolah menengah. Ia bergabung dengan Pemuda Rakyat karena ingin menyalurkan hobi menari dan menyanyi.

“Saya hanya ingin menyalurkan hobi saya berkesenian saja, tidak tahu itu terkait dengan politik atau tidak,” tuturnya.

Saat awal penangkapan, Utati diberi tahu petugas yang mengatakan hanya bermaksud meminta keterangan selama tiga hari. Kenyataannya ia ditahan seterusnya di penjara wanita Bukit Duri yang bekasnya pun kini sudah tidak ada lagi.

Di penjara itu, Utati menyaksikan banyak anak-anak tapol yang ikut dibawa ke penjara dan tumbuh besar di sana. Anak-anak itu menjadi penghiburan bagi para tapol. Namun kemudian, dibuat aturan jika anak di atas umur 3,5 tahun harus keluar dari penjara.

Masa-masa awal di penjara tentu saja membawa rasa kecewa, bahkan frustrasi bagi Utati. Ia sempat murung dan malas untuk melakukan apa pun.

Beruntung, ia mampu menyemangati diri sendiri dan mencoba beradaptasi dengan keadaan dalam tahanan. Keberadaan teman sebaya dan anak-anak kecil cukup mampu membawa sedikit suasana ceria dan mengalihkan sejenak dari derita yang dijalaninya.

Di sisi lain, ia pun memang harus tetap berjuang untuk bisa hidup di penjara. Ia mengikuti kegiatan membuat kerajinan tangan, seperti membuat renda dan kristik.

“Saya harus berusaha untuk bisa tidak mati di situ. Waktu itu kami diizinkan kerja tangan, seperti ngrenda, kristik, dititipkan pada ibu-ibu yang besuk untuk dijual, kalau laku bisa untuk beli gula, sabun, dan lainnya,” tutur Utati berkisah tentang perjalanan hidupnya semasa jadi tapol.

Utati akhirnya bisa merasakan lagi udara bebas di usia 33 tahun. Namun, ia keluar dalam keadaan sakit amandel dan sulit berjalan. Maka, Utati pun berupaya lebih dulu untuk sembuh dari penyakitnya.

Setelah ia bisa berjalan, langsung pulang menemui ibunya. Sang ibu yang sudah berpikir tidak akan pernah bertemu lagi dengan anaknya pun terkejut bercampur senang.

Utati lalu menikah dengan sesama eks tapol, yakni Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer yang hingga akhir hidup Koesalah bekerja sebagai penerjemah. Koesalah pernah aktif di Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-66 (YPKP 65) namun wafat (16/3/2016) pada usia 81 tahun di Depok.

Utati menikah dengan Koesalah Soebagyo Toer dan mengontrak rumah di Utan Kayu, Jakarta Timur, lalu pindah ke Mampang, Jakarta Selatan dan berakhir di Depok, Jawa Barat.  Namun, untuk bisa memiliki rumah di Depok, perjuangan harus ia lakukan.

“Ketika pindah dari Mampang ke Depok, September 1993. Pindah ke sini prosesnya panjang, 11 bulan. Karena pindah rumah harus lapor, ada penjaminnya juga. Lapornya ke Bandung ke kantor Gubernur. (Saat itu) masih mel ke Babinsa,” ujar Koesalah sebagaimana dikutip KBR, 2014.

Hasil kerja Koesalah sebagai penerjemah membuat keluarga ini bisa membeli rumah di Mampang yang kemudian dijual untuk membeli sebidang rumah seluas 154 meter persegi di Depok. Utati Koesalah tinggal di rumah ini hingga sekarang.

(TS/M-1)
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Dalam foto 4 September 2016 ini, Sabar, mantan tahanan politik yang dipenjara selama delapan tahun tanpa diadili karena menjadi anggota Front Petani, salah satu organisasi massa Partai Komunis Indonesia, berjalan di hutan jati tempat kuburan massal berlokasi, di Darupono, Jawa Tengah, Indonesia.
[Kredit Gambar: AP Photo / Dita Alangkara]

Ke Pulau Buru: Perjalanan ke Sisi Gelap Masa Lalu Indonesia

Sri dan orangtuanya, ayahnya dalam seragam petugas kepolisiannya.

Teror di Tandes

Related posts
Your comment?
Leave a Reply