1965 dan Upeti Orang Bekuan

30 Viewed Redaksi 0 respond
IMG_3839
  • Rumah Broto Suar (nama disamarkan) diserbu barisan orang-orang hari itu; Jumat 19 November 1965.  
  • Dia sendiri ditangkap pada Senin 22 November 1965 saat usianya masih 22 tahun.
  • Dan baru dibebaskan pada 7 Februari 1968.

Broto Suar adalah eks karyawan pabrik kertas PN Blabak. Saat jadi karyawan perusahaan negara ini dia ikut bergabung di SBPI (Serikat Buruh Percetakan Indonesia) setempat. Situasi di perusahaan kertas milik negara saat sebelum penangkapan secara massal pasca Gestok 65, masih tenang sebagaimana biasa.

Namun pada sebulan berikutnya situasinya mulai berubah. Terdengar desas-desus bahwa Magelang memulai membentuk apa yang disebut sebagai Front Pancasila, dengan tujuan menciduk orang-orang PKI. Organ massa ini sepintas bentukan masyarakat sipil, anggota Front Pancasila di daerah Blabak diketahui kebanyakan dari karyawan PN Blabak sendiri, ditambah ormas lain yang berhaluan anti PKI.

Secara umum Front Pancasila terdiri dari orang Muhammadiyah, NU dan golongan nasionalis PNI; setidaknya itu yang bergerak. Pada suatu hari Jumat, gerombolan massa ini memasuki kampung Jetis dan melakukan aksi bakar rumah. Separuh kampung itu hangus, sekitar 30-40 rumah habis terbakar dan rata dengan tanah. Kebanyakan yang dibakar itu rumah orang-orang yang dituduh PKI namun juga ada beberapa yang bukan anggota PKI dibakar hangus juga.

Pembakaran kampung terjadi pada bulan November 1965. Desa Jetis bagian timur itu yang lebih banyak menjadi korban sedangkan wilayah barat tak separah sisi timur karena di barat ada tokoh NU. Pada hari itu pula penangkapan secara massal mulai dilakukan. Ada sekitar 100 – 150 orang ditangkap pada 3 hari berikutnya. Ratusan orang yang ditangkapi ini lalu diseret ke rumah Slamet bin Abdul Manan di Piyungan yang dikenal merupakan tokoh Front Pancasila. Sejak itu Broto Suar jadi tapol.

Rumah penampungan para tapol ini berada di Jl. Sawangan, persis di sekitar perempatan Blabak. Jika malam tiba, rumah itu gelap, tak diberi penerangan sehingga diantara para tahanan sulit mengenali satu sama lain. Interogasi tingkat pertama juga dilakukan di rumah itu, oleh petugas dari karyawan PN Blabak. Diantara para interogator itu ada Ratno dan Yujono.

Bagi Broto Suar, Yujono adalah atasannya yang tiap hari bertemu di tempat kerja. Lama penahanan di tempat ini bervariasi. Ada yang cuma ditahan sehari semalam, ada juga yang sampai seminggu dan bahkan sebulan tertahan di situ; karena menunggu giliran interogasi. Setelah interogasi tahap awal, tiap tahanan lalu dikirim ke Kodim Magelang hingga masa sebulan berikutnya, termasuk Broto.

Di markas Kodim, para tapol ini dipanggil dan diinterogasi lagi selama masa satu minggu, sebelum kemudian dikirim ke penjara Magelang; di tempat mana masih dilakukan interogasi kembali. Di Kodim, Broto ditaruh kleleran di emperan markas, siang malam. Makanan berupa nasi bungkus yang secara umum kurang mencukupi isi perutnya dikirim dua kali sehari -siang dan sore- dari warung di kompleks Kodim.

 

Tentang Dewan Revolusi

Bagi kebanyakan tapol, interogasi adalah momok yang tak jelas ujung-pangkalnya; tetapi sama ngeri menghantuinya. Meski Broto mendapat gambaran dari tapol yang lebih dulu diinterogasi dan kembali dengan wajah berlumur darah, tak urung berdebar juga saat tiba gilirannya. Materi pertanyaan dalam interogasi pertama seputar anggota organisasi apa yang diikutinya.

Di luar pabrik, Broto Suar adalah anggota aktif Pemuda Rakyat dan di lingkungan kerja ia anggota serikat buruh percetakan.

“Kamu tahu gak, Dewan Revolusi Mungkid?”, tanya petugas.

“Tidak Tahu..”, jawab Broto karena emang benar dia tidak tahu.

Meski begitu, ketidaktahuan Broto tak bisa menolongnya. Oleh petugas, jawaban Broto tak bisa diterima.  dipaksa harus tahu..

“Kalau dengan Akadi tahu gak?”, tanyanya soal Ketua BTI Mungkid.

“Lha ya kenal, pak..”, jawab Broto. Ia memang mengenal Akadi.

“Lha itu, kenapa tak mau mengaku, dia itu kan anggota Dewan Revolusi”

Begitu lah tentara, mengenal seseorang dianggap mengerti dan mengikuti jejak pikirannya. Itu lalu dijadikan tuduhan. Soal benar tidak, rupanya itu soal yang belakangan.

“Dengan pak Topo ngerti gak?”, tanyanya

“Ya, kenal pak..”

“Lha itu, kenapa gak ngaku”

Yang dimaksud dan ditanyakan petugas itu pimpinan-pimpinan tingkat kecamatan yang memang dikenalinya.

“Dengan pak Rahmat ngerti gak?”

“Ya, tahu pak..”

“Lha gene ngomong ora ngerti?”.

Ditamparnya wajah tapol Broto Suar. Dan pukulan menyusul mendarat di bagian hidungnya, berdarah tentu; karena seputar hidung itu adalah bagian yang rawan dari wajahnya. Selama interogasi berlangsung, selalu disertai dengan penyiksaan fisik bertubi-tubi. Darah mengalir membasahi leher, badan dan baju hingga bagian kakinya, tapi dibiarkannya saja.

Pimpinan Front Pancasila Blabak yang terkenal kejamnya itu dikenali Broto sebagai Sukmadi, orang dari Sawangan. Sukmadi dikenal oleh para tapol sebagai paling kejam masa itu.

Tetapi sepuluh tahun setelah itu, menjelang kematiannya, dia sekarat.  Sukmadi mencari penyembuh seorang yang pandai pijat di kampung itu. Lalu orang memberi tahu tempat pak Dakam. Penyembuh ini seorang tapol juga. Dakam juga pernah disiksa Sukmadi semasa sebelumnya.

“Yen gelem pijet nganggo alu yo rene” (kalau mau dipijat pakai antan ya sini_Red). Begitu jawaban si Dakam yang terlontar dari luka hati yang dia sendiri tak bisa menyembuhkannya. Sulit baginya memaafkan Sukmadi.

Di masa sehatnya, Sukmadi acap terlihat mondar-mandir bawa kabel baja sebesar dhadhung dan tak segan memukuli tapol dengan peralatannya azabnya itu. Pernah seorang tapol disabet sekali dan terkencing di celana sebab tak kuat menahannya. Untung bagi Broto Suar, Sukmadi kenal baik dengannya. Suatu hari dia membaca berkas hasil interogasi saya, bilang:

“Lho, kowe ki nganu to To.. anggota Dewan Revolusi”.   

“Lha nggih mboten to pak”.

“Iki kok muni ngono”

“Niku kan kulo wau dipeksa, kulo mboten ngertos Dewan Revolusi”

Diam sejenak

“Ning kulo wau ditakoni Nek karo Rahmat kenal po ora, karo Akadi ngerti po ora, karo Topo ngerti po ora..”

Kan tiap harinya Broto tahu, tapi tak ngerti kalau yang dimaksudkan Dewan Revolusi itu mereka.

Di Kodim ia dipanggil lagi, diintrogasi lagi; kali ini oleh Kapten Sunaryo. Tapi interogasi kali ini cuma seakan-akan humor saja.

“Kamu anggota Pemuda Rakyat to?”, tanya sang Kapten

“Iya pak”.

“Pernah diberi senjata kan?”.

“Belum pak”.

Tak tahunya si Kapten sambil menunjuk ke arah alat vital Suwarto bilang

“Lha itu sudah diberi senjata, ngacung gitu kok. Itu kan pistol air..”.

 

Menganulir Hasil Interogasi

Selang beberapa hari, ternyata si Kapten ini kena ciduk juga. Broto tak disiksa disana, tapol lainnya juga diinterogasi biasa. Tapi setelah semua tapol berada dalam penjara Magelang, tiap hari ada saja tapol yang dibon. Dibawa dan diperiksa di lokasi eks karesidenan. Penyiksaan terjadi di lokasi ini, bahkan sampai ada yang menemui ajalnya; disiksa sampai mati. Gedung eks karesidenan kini jadi cagar budaya, berada dekat alun-alun Magelang, di seberang taman Kyai Langgeng dan tak jauh dari RS Harapan. Dari lokasi ini mudah dicari jalan menuju kawasan Bandungan.

Ihwal dibon itu para tapol diperiksa berdasarkan hasil berkas pemeriksaan Front Pancasila. Broto Suar menganulir kesimpulan tudingan terlibat G30S dalam berkas itu. Dia juga bukan anggota Dewan Revolusi seperti yang disebut orang-orang yang menginterogasinya. Karena saat dari Front Pancasila Blabak itu Broto dapat intimidasi berupa pertanyaan: siapa yang mau dibunuh jika tak mengaku? Ini kan jawaban paksaan dalam jebakan interogasi. Dan karenanya Broto menganulir isi berkas dari hasil interogasi awal terhadapnya.

Waktu pemeriksaan di eks karesidenan ini Broto merasa dibantu “diselamatkan” pak Atman, seorang Inspektur Polisi yang akhirnya berani “menghilangkan” hasil proses verbal awal dari Front Pancasila.

 

Pembunuhan Yusmin, Orang Bekuan dan Kerjapaksa Tapol  

Penculikan tapol sepanjang pengetahuan Broto tak ada, tapi penangkapan massal memang masif, bisa menjangkau hampir satu kecamatan dalam satu malam. Pernah pada suatu malam tapol dipanggil, diangkut dengan truk dibawa ke Nusakambangan. Namun selang sehari berikutnya terdengar kabar juga ada beberapa tapol yang dihabisi di tengah perjalanan. Diantara yang dibunuh di tengah perjalanan ini namanya pak Yusmin, orang Magelang.

Broto Suar hanya ditahan di penjara Magelang hingga pembebasan pada pekan awal Februari 1968. Namun selama di LP sering dibon untuk kerjapaksa di luar penjara. Ia dikirim ke daerah Kajoran selama satu bulan untuk membangun dan memperbaiki pengerasan jalan, menata batu-batu cengkam di sana. Pengawasnya dari satuan baret abu-abu militer Armed. Ada sekitar 60-70 tapol menjalani kerjapaksa seperti ini, pengerasan jalan dari Kajoran sampai Kaliangkrik. Jika malam para tapol diinapkan di rumah pak Lurah Desa Sangen daerah Kajoran. Tapol pekerja ditampung di situ dan tak ada yang berfikir buat melarikan diri dari “kewajiban” kerjapaksa.

Selama di kerjapaksa para tapol diberi makan, tetapi makanan ini juga dipasok dari “orang-orang bekuan”, orang kampung setempat yang distigma dan lalu diminta bantuan secara kolekte untuk memberi bahan makan para tapol. Ada yang setor beras, lauk, bahan sayuran serta kayu bakar; bahkan uang juga. Pekerjaan membangun jalan Kaloran hingga Kaliangkrik bisa dikatakan murni hasil karya para tapol dan simpatisan PKI pada masa itu.

Warga desa yang diminta menyetor logistik adalah para simpatisan yang tak diciduk melainkan dibeku proses penangkapannya; maka disebut orang-orang bekuan. Di beberapa daerah, seperti di Purwodadi, orang-orang bekuan ini bahkan sampai harus setor uang dalam jumlah besar (ratusan ribu hingga mendekati 1 jutaan, sampai harus jual sawah) agar anggota atau kepala keluarganya tak sampai diasingkan ke Nusakambangan atau dibuang ke Pulau Buru; dua pulau yang menjadi momok para tapol masa itu.. []

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
GEGER GESTOK 65: Gumbul "Tirto Giri Kalangan" pada masa Tragedi 65 gagal dijadikan lokasi kuburan massal (mass-graves) meskipun telah diperintahkan otoritas militer masa itu {Foto: YPKP'65 Pacitan]

Cokrokembang, Bumi yang Menolak Jadi Kuburan Massal 65

Related posts
Your comment?
Leave a Reply